28 May 2013

Kau

ketika ketikan hanya mampu menghasilkan tulisan
ketika berlisan tak akan ada yang didengarkan
karena aku hanya ingin berhenti menghiraukan
dengan menyampaikan "Selamat Tinggal" yang berkesan
atau baiknya kutinggalkan, kubiarkan?

24 May 2013

Selingkuh

Di belantika kehidupan kita masing-masing itu pasti ngebawa kita ketemu sama orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Misalnya jadi kenal orang-orang yang latar belakangnya pedagang. Sebut aja mamang nasi padang, mamang tukang bubur, teteh penjual nasi kuning, atau mamang gorengan.

Gue suka jajan makanan kaki lima. Beberapa bahkan jadi langganan karena terbukti punya diferensiasi dengan produk sejenis lainnya. Misalnya Cap Cay Mickey Mouse, yang capcaynya lebih manis dibandingkan capcay-capcay di pedagang lainnya. Atau nasi kuning Teteh Bohay, yang sering dikerubungi bapak-bapak gatel yang istrinya masih nyenyak di kasur.

Tapi kadang ini juga bisa bikin jadi gampang gak enak hati.

Namanya manusia, pasti ada momen di mana dia dilanda kebosanan. Kalau gak ada inovasi dari makanan-makanan atau jajanan tersebut, ya pasti lidah ini udah capek lagi-lagi dijejalin asupan yang sama.

Gue sendiri pernah tertangkap basah makan bubur di tempat lain, oleh mamang bubur yang dulu jadi langganan. Waktu itu lagi subuh-subuh, habis begadang ngerjain tugas. Karena kepagian, gue gak menemui mamang bubur langganan sedang bertengger di tempat biasanya. Akhirnya ya gue pindah ke bubur lain. Baru beberapa suap gue makan bubur di tempat baru, tiba-tiba nongol mamang bubur langganan. Muka dia antara asem, kecut, sama pait. Mungkin hatinya rapuh banget, doi ngedorong gerobak siap-siap berdagang tapi pandangan matanya sedih banget, kaya di acara-acara tv yang nampilin penderitaan hidup orang.

Saat itu, gue ngerasa kaya selingkuh. Tapi bubur ayam yang baru ini rasanya lebih enak, dengan harga yang sama. Bukannya gak mau setia, tapi ya mau gimana? Doi, si mamang bubur lama gak punya inovasi lain di buburnya. Gue gak mau menyuapi diri ini dengan makanan yang keluar dari norma-norma yang berlaku di kerongkongan. Tapi gue juga gak mau jadi oportunis yang milih bubur ayam yang baru gara-gara lebih enak dan kerupuknya lebih banyak.

Beda cerita lagi dengan pemilik nasi padang di deket kosan. Dulu gue sering makan di sana karena sambel ijonya enak banget bukan main. Rasanya makan pake apapun bakalan enak kalau ditambah sambel racikan istrinya ini. Tapi ya perut ini pasti panas kalau makan yang pedas-pedas mulu saban hari. Akhirnya gue pun pernah dipandang sinis ketika ketahuan mau makan di tempat lain, yang di mana gue harus melewati rumah makan nasi padangnya dulu. Kayaknya kalau gue saat itu jail bolak-balik buat manasin doi, itu piring-piring yang ditata rapih dengan fondasi yang kokoh bakalan ambruk dihantam tangan doi kayaknya.

Suatu saat, gue pun kenalan dengan mamang gorengan. Waktu itu lagi tengah malam lagi ngerjain tugas, dan akhirnya ngopi bareng bapak-bapak tetangga, yang ngenalin gue sama mamang gorengan tersebut. Akhirnya beberapa hari kemudian gue beli gorengan di tempat dia. Dan gue dikasih bonus satu biji. Cuma satu biji sih, tapi itu jadi kaya pertanda kalau kita resmi temenan. Beruntunglah mamang gorengan tersebut gak punya akun Facebook atau Twitter, yang kalau kenalan cuma bisa ngasih "Salam kenal. Thx for the app :)" atau "Salam kenal. Follback ya! :)".

Tapi ini jadi bikin gue bingung lagi. Gimana kalau suatu saat nanti ada gorengan yang lebih enak?

P.S Gue masih setia dengan Teteh Bohay penjual nasi kuning, bukan karena ke-bohay-annya, tapi karena nasi kuningnya masih enak sampai sekarang.

P.S.S Penjual capcay Mickey Mouse dagangnya mood-mood-an, jadi kalau gue selingkuh dengan pedagang yang lainpun ada alasan yang gue bisa utarakan kalau tertangkap basah.

21 May 2013

Pencerita yang Dibutuhkan Alam Semesta

Mungkin ini curhat, atau apapun. Karena kata-kata ini tak perlu dibaca untuk yang tak berminat. Tapi yang selalu jadi pertanyaan dan selalu ada di pikiran adalah bagaimana menghapus rasa rindu dengan seseorang yang sudah tiada.

Misalnya dengan satu orang yang lihai benar bercerita, bikin badan yang gak mau diam ini jadi semacam terbenam dalam duduk berpose sila, bikin mulut yang katanya banyak ngomel ini jadi mingkem, bikin pikiran yang lari ke mana-mana ini jadi diem, yaitu beliau yang berbau balsam. Waktu kecil memang sangat tidak suka dengan bau balsam, rasanya seperti ada rasa-rasa tidak sedap di lidah. Beliau adalah satu-satunya manusia yang bau balsamnya bisa ditoleransi hidung.

Beliau sering bercerita. Kamarnya yang berada di lantai dua membuat kaki-kaki yang dulu kecil ini tak lelah untuk melompati tangga. Kamar beliau, adalah akuarium dengan ikan-ikan pari, ikan paus, dan beberapa penyelam yang asyik menyelam di sana. Lengkap dengan suara air yang menjadi latar ketika mulut beliau dengan lucunya mengeluarkan kata-kata. Matanya berpindah-pindah, kadang ke ujung ruangan, kadang ke samping, atau jika kau tak siap-siap, dapat menujam kedua bola matamu.

Mungkin karena masih kecil dan tak mengerti apa yang terjadi, mata ini dulu tak mengeluarkan air mata setetes pun. Dulu masih belum mengerti bahwa ketika seseorang berhenti bernafas, lalu dijemput mobil menuju pemakaman, artinya adalah bahwa dia tidak akan ada lagi untuk bercerita, baik esok, setahun berikutnya, atau bahkan ketika mendapatkan predikat juara di perlombaan-perlombaan.

Beliau juga seringkali mengajak jalan-jalan. Benar-benar jalan, lalu pulangnya memberikan permen untuk dinikmati sambil jalan. Waktu itu masih kecil, jadi yang masih diingat adalah pinggulnya, bukan bagaimana wajahnya ketika berjalan. Atau, sandalnya yang merupakan spesies sandal jepit yang dengan mudah dapat ditemukan di warung-warung terdekat. Beliau tidak pernah malu berjalan kaki dengan pakaian sederhana, beliau tidak mau menyetir mobil karena hanya akan mempercepat menuju tujuan. Padahal, banyak yang bisa ia temui di jalan.

Beliau adalah yang membuat jemari ini doyan menulis, merangkai kata-kata untuk mengubah imajinasi ini dalam secarik, dan setumpuk kertas. Atau sekarang, dijital. Karena dulu tak pernah ada yang memberikan buku cerita, maka harus membuat sendiri dengan cerita-cerita yang ada di kepala.

Beliau juga selalu mendengarkan, ketika yang lain mengacuhkan. Ingat benar bagaimana mendengar segala keluhan, dan cerita-cerita yang menurut orang lain hanya omongan. Beliau memeluk tubuh kecil yang ringkih tapi doyan benar bergerak lalu terjatuh baik dikejar, atau mengejar anjing tetangga yang nakal ini dengan erat tapi tak membuat pengap.

Dulu sempat kepikiran, jangan-jangan beliau pergi diculik oleh makhluk-makhluk yang digambarkan oleh tangan ini di tembok-tembok kamarnya. Beliau tidak pernah marah ketika cucunya menggambar di tembok, beliau menghargai kreatifitas atau, kenakalan. Ada Si Gombel, hantu Wewe Gombel yang selalu bikin ngos-ngosan karena berlari pulang saat maghrib menjelang. Ada Mang Sana, warung langganan untuk membeli jajanan. Ada robot-robot yang tak sempat diberi nama, atau yang lebih abstrak: latihan-latihan tanda tangan karena dulu beranggapan memiliki tanda tangan berarti memenuhi kualifikasi untuk menjadi dewasa.

Tidak ada yang pernah memberikan jawaban ketika pikiran-pikiran ini bertanya, lalu disalurkan ke pita suara untuk menjadi kata-kata. Semua diam ketika ditanya beliau di mana. Otak ini tak pernah diberikan suapan yang ia inginkan. Ia menungu beliau untuk sekedar bercerita, ia haus akan cerita-cerita seperti biasa.

Beliau adalah orang yang paling dicinta,
beliau adalah sang pencerita yang percaya bahwa setiap cucunya dapat menaklukan semesta;
Kakek, yang telah mengisi pikiran ini dengan alam semesta kata-kata.

05 May 2013

Pacar Mainan


Kalau di film Drive (2011) Ryan Gosling berlaga cool dan macho dengan aksi ngebut-ngebutan dan tembak-tembakkan yang membuat Carey Mulligan kesemsem, maka di film berdurasi satu setengah jam ini dia justru jadi kebalikannya.

Lars adalah anak kedua dari keluarga Lindstorm yang taat pergi ke gereja  dan tinggal di rumah sederhananya yang jarang sekali bersosialisasi dengan orang-orang sekitar. Apalagi masalah menggaet cewek. Alhasil di umurnya yang sudah 27 tahun, dia tidak memiliki relasi dengan siapapun.


Karin (Emily Mortimer), istri dari Gus atau kakak kandung Lars yang sedang hamil ini khawatir dengan keadaan adik iparnya tersebut. Ia pun berusaha mengajaknya untuk sekedar sarapan, atau makan malam di rumahnya yang hanya terletak beberapa meter di depan rumah Lars agar ia tidak menutup diri lagi. Namun dengan berbagai alasan Lars menolaknya, atau sekalipun datang ia hanya berkutat dengan makanan yang disajikan dan tidak mengeluarkan sepatah katapun.

Hingga suatu saat usaha Karin ini terbayar, Lars datang sendiri ke rumahnya dan meminta bantuan karena ia kedatangan seorang tamu wanita. Tentu saja ia sangat bahagia dan bersedia menyiapkan apapun untuk menyambut satu-satunya wanita yang bisa membuat Lars menjadi lebih terbuka.

Dan satu-satunya wanita yang membuat Lars berubah itu ternyata hanya sebuah boneka.

Lars and the Real Girl adalah film drama comedy tidak hanya membuat tertawa namun juga menyentuh sisi emosional. Dalam film ini Craig Gillespie tidak membicarakan panjang lebar mengenai masalah keluarga yang dihadapi Lars, Gus serta ayah dan ibunya sehingga berdampak pada kehidupan mereka. Namun bagaimana reaksi masyarakat sekitar terhadap orang-orang seperti Lars ini dan bagaimana penonton diharapkan menjadi lebih peka terhadap keadaan sekitar. Misalnya bagaimana teman-teman Lars "meladeni" permainan yang dijalankan oleh Lars dalam pikirannya sendiri dengan ikut serta dalam permainan.

Film ini juga mengingatkan kepada film-film sejenis lainnya, seperti Robbin Williams di One Hour Photo (2002), film dari negeri sakura; Air Doll (2009), atau Jared Letto vokalis 30 Seconds to Mars di Mr. Nobody (2009). Yang pasti, buat siapapun yang menginginkan film selain lucu juga membuat kita berpikir wajib menonton film satu ini.

"We came over and sit, that's what people do when tragedy strikes."

Komedi Italia yang Menyentil


Bagaimana rasanya ketika kita harus menghadapi lingkungan baru yang tak hanya berbeda jauh, namun juga terkenal bisa membuat siapa pun tidak betah berlama-lama di sana?

Maka tanyakanlah kepada seorang manager kantor pos, Alberto Colombo yang diperankan secara apik oleh Claudio Bisio di Benvenuti al Sud, ketika ia harus dipindah tugaskan dari sebuah kota di daerah utara Italia ke Castellabate, sebuah daerah di selatan yang digandang-gandang membuat siapapun pendatang di sana akan menangis menjerit-jerit ingin pulang dan tak mau kembali.

Suhu yang sangat dingin, cara bicara orang-orang yang tak jelas, makanan-makanan yang buruk seperti cokelat yang dicampur dengan daging babi, dan desas-desus lainnya cukup untuk membuat siapapun berpikir sejuta kali untuk tinggal di sana. Tapi Alberto tak punya pilihan lain jika masih ingin bekerja. Dengan terpaksa ia pun meninggalkan Silvia, istrinya yang sering mengomel beserta anaknya sendiri yang tak mau tinggal bersamanya di Castellabate.

Awalnya ia memang sangat membenci tinggal di tempatnya yang baru. Semua orang ia curigai mempunyai niat ingin mencelakainya, dan ia menolak semua orang yang menawarkanya secangkir kopi atau sekedar menikmati hari bersama. Ia mencibiri sifat ketidakefisienan penduduk Castellabate yang masih berpegang teguh pada frasa "Dolce far niente" atau "The sweetness of doing nothing" dibandingkan menggunakan waktu mereka untuk hal-hal yang produktif. Karena tak betah, ia selalu menyempatkan pulang ke daerah asalnya setiap dua minggu sekalipun jaraknya cukup jauh.

Seiring cerita, penonton disuguhkan bagaimana seorang pekerja keras yang sering mengeluh, belajar mencintai hidupnya dengan cara yang berbeda. Juga bagaimana sebetulnya masalah buruk dan baik hanyalah tergantung dari sudut pandang. Belum lagi konflik yang berkembang seiring film ini yang membuat cerita semakin kaya.

Universal
Film berdurasi 104 menit yang memenangkan 5 penghargaan dari 16 nominasi ini memang berlokasi dan berasal dari olahan sang sutradara Italia, Luca Miniero. Tapi pesan dari film ini sendiri sesungguhnya universal; membuat kita untuk tidak menilai sesuatu sebelum kita merasakannya langsung. Belum lagi unsur-unsur komedi yang ada pun bisa dimengerti oleh siapapun, bahkan yang tidak mengetahui apa yang terjadi di negeri yang terkenal dengan beragam kopinya itu.

Pembelajaran
Menonton film ini seolah ingin mengukuhkan betapa cerdasnya film-film komedi dari benua Eropa. Mereka tidak hanya menjual tawa, tapi juga pembelajaran baik dari cerita yang menginspirasi, juga dengan unsur visual dan penataan musik yang sangat apik. Hal ini sepatutnya dapat menjadi bahan referensi untuk sineas-sineas Indonesia agar membuat sebuah film yang tidak hanya mengundang gelak tawa dan laris manis di pasaran, namun juga menginspirasi mereka lewat dunia perfilman dengan mengangkat isu-isu di negeri sendiri.

Film ini sebetuknya merupakan remake dari film Prancis berjudul "Bienvenue chez les Ch'tis" yang juga sukses pada tahun 2008. Sekalipun tidak keluar dari pakem-pakem film sebelumnya, Benvenuti Al Sud ini tetap saja dikemas dengan lebih segar, lucu, dan tentunya menyentil. Kalau jeli, kita bisa menangkap basah sutradara dan pemain film sebelumnya, Dany Boon yang menjadi cameo di sini.