21 July 2013

Parsial


Lucu ya jika ingin menulis tapi tak tahu apa yang ingin ditulis. Seperti ingin berbicara tapi tak tahu apa yang ingin diutarakan. Ada yang menggunung dari hati atau pikiran dan tak mungkin lebih lama ditampung. Ah, bahkan tak tahu mana yang dari hati dan mana yang dari pikiran. Kok berani tiba-tiba menumpuk.

Lalu apa mereka sebetulnya bekerja sendiri-sendiri? Lalu siapa diri ini sendiri jika hati dan pikirannya bekerja terpisah. Bukan pertanyaan sebenarnya, maka tak perlu pakai tanda tanya.

Katanya waktu akan menjawab semua. Lalu apa itu waktu, atau siapa? Yang punya keterampilan untuk menjawab semua tanya dan bahkan katanya luka. Karena yang diketahui hanya suara jarum jam yang berkutik konstan.

Kembali kepada tujuan awal, mengapa menulis jika tak tahu apa maknanya? Lalu siapa itu yang berpangkat cukup tinggi untuk lancang bertanya makna. Lagi, bukan pertanyaan karena pakai titik bukan tanda tanya.

Jadi ya biarkan saja apa adanya, katanya. Tapi tolong jangan halangi jemari-jemari yang ingin mengutarakan apa yang ada di hati dan pikiran sekalipun terpisah-pisah. Ada larangan?