Pages

06 November 2013

Daily Post: 18bc and 24a

Sesuai yang dijanjikan pas project 30 Daily Post, kalau gue kelewatan sehari, hukumannya adalah membuat 3 iklan apapun dengan brief random. Tujuannya ya biar skill menulis gue ini meningkat, atau minimal ya ada kemajuan walaupun minim. Gue 2 hari kelewat (hari ke 18 dan 24), tapi baru bikin 4. Sisa dua, belum kekejar karena ngurusin ini-itu-ini-itu-si ini-si itu-si anu-anunya si itu-itunya si anu-blahblah. Karena di sini warnanya jadi berubah, mungkin bisa dicek di kreavi.




05 November 2013

Bungsu Bangsat

Maaf judulnya rada kasar. Tapi setelah baca ini, mungkin kalian semua bakalan ngertiin dikit.

Alkisah gigi-gigi gue hidup dengan tentram di mulut. Gue urus mereka layaknya ibu mengurus anak-anaknya: tiap pagi gue mandiin, nyikatin dengan halus, saat malam tak lupa juga gue sikatin biar bisa bobo cantik. Belum lagi kalau gue makan, gue sisain mereka dikit-dikit. Sampai suatu ketika lahirlah seorang anak yang tak direncanakan, sebut saja si gigi bungsu (nama disamarkan untuk menghindari menyinggung beberapa pihak).

Gigi bungsu ini gak ada lucu-lucunya. Doi gak lahir dengan imut wajah manis kaya bayi lainnya yang saking manisnya bikin gemeteran buat meluk, takut pecah. Si gigi bungsu ini lahir tanpa tanda-tanda, langsung nongol aja gitu. Kelahiran dia, bikin gigi-gigi lain yang tadinya tentram damai laksana negeri dongeng mendadak kesakitan dan bertingkah aneh kayak zombie.

Sekarang gigi gue yang lain berantem melulu. Cemburu sih kayaknya, tapi bingung juga kenapa cemburu. Karena gue sama sekali gak sayang dengan gigi bungsu si anak haram ini. Gue malah gak yakin kalau dia anak gue, atau sebenernya dia ini akibat dari salah pilih program KB? Gak tau juga apakah karena gue gak minum susu kehamilan yang membuat doi jadi bertingkah aneh dan nularin kezombiannya ini ke gigi-gigi gue yang baik hati.

Sayangnya buat kalian yang juga kedapetan gigi bungsu ini, birokrasi buat ngusir doi rada ribet. Nakutin juga sih karena gue baca-baca kalau mau nyabutin si bungsu bangsat ini harus mastiin gak akan ngaruh ke syaraf yang lain. Malah di luar sono ada yang ko'it. Ah, gue harus banyak baca-baca lagi tentang cara mendepak si tengik ini.

Minimal, si gigi bungsu udah gak terlalu bikin ulah sekarang. Tapi gue tetep gak mau nyium keningnya sebelum bobo kaya gigi yang lain.

04 November 2013

Pangkas Rambut


Saya bukan termasuk orang yang ketat banget buat milih tempat pangkas rambut, kadang saya milih tempat yang emang lagi gak terlalu rame aja. Atau sekalian lagi sepi banget.

Yang paling saya suka dari cukur-mencukur sebenarnya bukan hasilnya aja sih, tapi seringkali mengobrol dengan tukang cukur itu jadi bikin punya verita sendiri. Apalagi dulu saya selalu mencukur di rumah, dengan tukang cukur langganan keluarga yang dipanggil untuk datang setiap waktu tertentu. Alhasil ketemunya itu lagi, itu lagi.

Waktu saya traveling ke Semarang misalnya, saya mengobrol dengan tukang cukur yang lagi asyik berkutat dengan rambut saya. Dia bercerita tentang daerahnya dulu yang penuh dengan orang-orang berjualan yang kini justru sepi. Yang paling saya ingat, dia bercerita tentang penjual nasi ayam yang tidak bisa menghitung tapi sekali kamu ke sana, porsi yang kamu dapet bener-bener jumbo. Sang pedagang cuma menghitung menggunakan perasaan, toh dia juga seringkali tidak melihat. Entah karena porsinya, atau karena ketidak mampuannya, usahanya laku keras. Orang-orang yang datang ke sana pun berbadan tambun, mau orang dewasa atau anak kecil. Kalau pun gak berbadan tambun, sisa makanannya masih bisa dibungkus untuk disantap lain waktu.

Ada juga tukang cukur yang pernah iri dengan rambut saya. Dia ingin sekali punya rambut keriting karena katanya sih lebih artistik aja. Dia juga menyarankan hal-hal yang aneh, yaitu untuk "men-creambath" rambut saya dengan tinja kerbau. Di kampungnya orang-orang sering menggunakan feses binatang sawah itu untuk ke rambut agar tampak indah. Hahaha saya sih iyain aja, tapi gak janji akan mengikuti saran dia.

Kalau foto di atas, itu tempat pangkas rambut saya tadi. Entah kenapa, uang datang tadi pagi didominasi oleh orang-orang tua. Kakek-kakek sporty yang baru pulang dari jogging keliling komplek. Mereka sepertinya udah langganan sih, karena akrab sekali dan bahkan tidak perlu memberi arahan rambutnya yang abu-abu ingin diapakan.

Tempat pangkas rambut yang merakyat emang punya ciri khas sendiri sih. Beda sama di mall-mall. Yang entah karena capek atau apa, gak seseru diajak ngobrol dengan tukang pangkas rambut di pinggir jalan. Biasanya ya ngibrolin artis atau entah siapa ke rekan kerjanya.

Sayangnya saya belum pernah cukur di aatu tempat/jenis yang saya pengen: di bawah pohon. Tukang cukur di bawah pohon pasti punya keunikan sendiri, selain suasananya, saya pengen tau dia akan bercerita tentang apa.