24 March 2013

Lem

Kadang hidup ngebawa kita untuk berperan jadi lem, yang nempelin satu bagian dengan bagian yang lain. Tapi juga harus menerima resiko untuk dibenci karena lengketnya sering bikin jijik orang dan dikira sok asik nyatu-nyatuin. Hal ini kadang emang keterpaksaan, karena bagian-bagian lain terlalu gengsi sehingga terlalu padat untuk jadi lem yang merekatkan semua. Padahal mungkin kita gak lagi pengen jadi lem, kita mungkin pengen jadi yang lain yang lebih bergengsi daripada sekedar lem, yang justru sering dibenci.

12 March 2013

Tesaurus



Bersyukurlah gue gak lahir di zaman dinosaurus, jadi gue bisa beli tesaurus. Kebayang kalau gue lahir di zaman dinosaurus, gak ada Gramedia, gak ada Togamas, gak ada Rumah Buku, dan gak ada toko buku online, kebayang susah banget dapetin ginian. Dan kalau udah dapet pun diyakini gak bakalan bisa tenang karena sewaktu-waktu bisa aja ada dinosaurus yang makanin ini buku, atau bahkan melahap habis-habis badan gue yang mungkin cuma cukup jadi cemilan atau lalapan ini.

Benda yang tebelnya setebel harganya juga ini dibeli setelah mendapatkan saran, rekomendasi dari para penulis dan editor terkemuka. Halah! alasan utamanya ya tuntutan. Benda ini emang berguna banget buat gue yang doyan nulis, mau nulis jelas atau amburadul gak beraturan macam beginian. Ya, semoga emang ngebantu banget buat gue yang kepengen jadi penulis novel fantasi, travel writer dan juga copywriter ini.

A-
(dibaca: AMIN!)

05 March 2013

Ia Sedang Sibuk

Tubuhnya ceking, dan jemarinya terlampau kurus untuk mengalahi batang rokoknya yang lebih panjang dan tebal. Ia hisap batang rokok itu dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya dengan fasih seolah sudah biasa.

Padahal ia baru dapat sebatang rokok itu dari seorang pelanggan.

Ketika itu ia sedang sibuk membalikkan meja suruhan majikannya yang gendut dan galak bukan main. Sore itu tiba-tiba hujan, tempat makan itu kecipratan lalu merisaukan para tamu yang sedang asyik nongkrong. Padahal pikirannya sedang dihujani beragam keluhan tentang masa kecilnya yang harus diisi dengan mencari uang.

Para tamu itu, adalah mahasiswa-mahasiswi yang Tuhan beri kecukupan untuk berkuliah. Tempat makan itu adalah tempat di mana mereka menenangkan perut-perut gelisah. Ada fasilitas WiFi bagi mereka yang ingin berselancar di dunia maya baik untuk membantu membabat tugas-tugas, atau hanya untuk menghibur mereka selepas dari ruang kelas yang bagi mereka cukup menyiksa.

Mereka tidak mengerti. Tidak ada matakuliah yang khusus mempelajari tentang bagaimana isi hati seorang anak kurus ceking yang mencari upah di tempat makan para mahasiswa-mahasiswi intelektual. Mereka, juga sibuk bercengkrama lewat teman mereka di depan, dan teman mereka di dunia maya. Tuhan tidak berhak memurkai mereka. Ia tak mengajar di universitas manapun karena terlampau gengsi, itu jelas kesalahanNya.

Tuhan juga tidak berhak mengazab para pengajar karena ia tak pernah berdiskusi ketika mereka membahas kurikulum. Ia bersembunyi, berdalih bahwa pikiran-pikirannya telah ia anak-pinakkan kepada hamba-hambanya yang tak pernah diberi konfirmasi soal kiriman.

Maaf, anak itu tidak peduli tentang semua di atas. Ia hisap batang rokok itu membiarkan bibirnya menghitam. "Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin." Hanyalah omong kosong baginya. Tidak merokok tidak bisa membuatnya mendapatkan apa yang ia inginkan.

Pelanggan itu, memintanya duduk dan memberinya sebatang rokok. Ia dan teman-temannya bertanya mengapa ia bekerja bukannya bersekolah. Ah, pertanyaan konyol itu keluar dari mulut seorang mahasiswa yang pastinya sudah tau mengapa. Ia tak punya duit. Di kantung celana panjangnya yang paling bagus dan sengaja ia pilih khusus untuk hari pertama kerjanya itu, hanya ada lima ribu rupiah untuk ongkos pulang.

Hujan turun semakin deras, para mahasiswa-mahasiswi tak mau kalah lalu berbicara keras-keras.

Ia ingin berlari sendiri kala itu.
Ia ingin berlari sekecang-kencangnya dan menangis sendiri.
Ia ingin cengeng, itu adalah haknya karena telah melalui kehidupannya yang tinggi dan terjal.
Ia ingin menjerit dan berteriak;

"Teman-teman, aku ingin bermain!"

Sementara itu, di tempat yang berbeda-beda, teman-temannya, sedang sibuk melepas seragam sekolah mereka untuk dicuci, sambil bertanya dalam hati; "Di mana temanku yang tiba-tiba putus sekolah itu?"

Ia sedang sibuk menghisap batang rokok pemberian seorang pelanggan, gratis. Tanpa embel-embel biaya tambahan ini itu seperti sekolah.


Bandung,
4 Maret 2013.
Di sebuah tempat makan.