19 February 2013

The Less I Care, the Happier I Will Be

Ada banyak alasan kenapa seseorang bisa terkena insomnia. Mulai dari psikologis sampai biologis. Internal atau eksternal. Tapi insomnia versi gue sederhana: pada suatu malam ketika gue udah menutup badan dengan selimut tapi gak bisa tidur-tidur gue kepikiran ke mana ya temen gue, si penjual lotek itu sekarang berada? Gue pun membulatkan tekad untuk menulis tentang dia di blog. Dengan harapan siapa tau ada yang tau dan bisa menghapus rasa penasaran gue yang lama-lama bisa bikin gue gila sendiri cuma gara-gara udah lama gak makan lotek.

Tapi namanya juga kehidupan. Bejibun banget dengan hal-hal yang gak sesuai rencana. Pas sekali saat gue mau menulis tentang penjual lotek langganan gue dulu itu, Cinnamon, Simon atau Temon, kucing peliharaan di rumah ini lalu mengeong-ngeong dengan nada iba ke gue.

Seketika gue tau kok dia kelaparan, secara doi sering banget nyamperin gue kalau dia lagi kelaperan. Mungkin semua ini gak jadi cerita kalau gue akhirnya kasih apa yang dia mau. Masalahnya adalah, makanan dia yang biasanya ditaruh di tempat yang gue tau sekarang malah gak ada. Waduh, ini gimana dong? Udah malem lagi.

Gue pun menjelajahi rumah buat mencari makanan dia yang entah digondol siapa. Tega banget ngambil makanan kucing yang innocent ini. Sampai bikin gue kesel sendiri karena gak berdaya buat membantu si Simon.

Gak parah-parah amat sih sebenernya. Masih ada sisa makanan di mangkuknya dia. Tapi ya cuma beberapa biji. Biasanya, kalau gue kasih makan gue akan kasih dia lebih banyak sampai menggunung di mangkuknya. Dan sebelum gue tuang, gue akan mengocok kemasannya dulu sampai bersuara dan Simon memperhatikan itu. Seringkali Simon langsung makan kalau denger suara kayak gitu. Makannya gak pernah sampai habis dan selalu ada sisa di mangkuknya.

Dan sisa makanan itu samasekali gak memenuhi kriteria standar untuk menimbulkan efek suara. Maka gue pun terpaksa menyodorkan mangkuk itu ke Simon, dan dia gak mau. Akhirnya gue pun menaburkannya ke lantai, dan menggiring doi buat makan itu sisa makanan buat mengganjal perutnya. Untung sih dimakan sampai habis. Tapi Simon itu kucing beger, doi gak cukup cuma makan seporsi jabang bayi gitu doang.

Simon pun akhirnya cuma bisa mengeong dengan suaranya yang bikin hati siapapun yang mendengarnya teriris-iris.

Momen ini akhirnya bikin gue mikir lagi. Betapa kejadian kayak gini udah beberapa kali gue lihat, atau alami sendiri.

Simon ini kucing, dan sejauh yang gue baca seekor kucing emang gak se-setia seekor anjing. Dan Simon ini seringkali nyamperin orang kalau lagi ada perlunya doang. Lalu dengan mata berbinar-minar mirip Puss in Boots dan suaranya yang memelas selalu bikin gue jadi gak tega. Tapi kejadian kaya begini juga beberapa kali gue alami, bedanya, dia bukan kucing melainkan manusia.

Menjadi orang yang terlalu gampang tersentuh atau bersimpati dengan keadaan seseorang ternyata gak baik, akhirnya gue menyimpulkan. Gak tau karena keturunan atau apaan gue sendiri termasuk orang yang seringkali gampang terpengaruh sama orang lain. Tapi gue sendiri masih belajar buat menjadi orang yang "tegaan", dan orang-orang seringkali memandang negatif dengan hal ini. Mungkin katanya bukan "tegaan" harusnya, bisa juga "gak peduli" atau bahkan "egois" dan bla-bla-bla.

Gue pernah membantu seseorang, temen gue sendiri karena dia emang sering cerita ke gue tentang kesulitannya dalam hidupnya yang penuh problematika. Dia minta tolong ke gue dalam hal sesuatu di saat gue sendiri sebenernya sedang sibuk melakukan sesuatu. Gue gak tega, dan akhirnya meninggalkan kesibukan gue yang sebenernya penting buat gue saat itu, dan untuk jangka panjang. Temen gue itu di telepon pokoknya menggambarkan kondisi yang menurut gue udah butuh pertolongan banget. Gue pun buru-buru menemui dia dengan rasa was-was, dan pikiran-pikiran takut ada apa-apa. Pokoknya sebuah kondisi di mana rasa kekhawatiran itu memuncak.

Pas gue sampai. Semua yang dikatakan temen gue itu dusta.

Tapi dari kejadian itu pun gue sadar. Selama ini, bahkan sampai sekarang gue belum bisa tegas untuk menolak ketika seseorang menggunakan sifat gampang-kasian nya gue  yang gak tau positif atau negatif itu.

Terakhir kali yang gue alami pun sama, beberapa minggu yang lalu di mana gue membantu seorang temen gue di mana saat itu gue pun harus ke sana - ke sini sendirian buat nolongin dia, dan keesokannya ada deadline pengumpulan tugas yang menentukan kelulusan. Tapi setelah gue bantu dia, ternyata lagi-lagi efeknya justru ke gue sendiri. Ternyata dia gak sebutuh itu dengan bantuan gue. Dia lagi santai, lebih santai dari gue sendiri yang saat itu ngos-ngosan. Gue pun lalu bergegas pulang, dengan waktu yang terbuang dan harus mengerjakan tugas sendirian.

Mungkin bukan salah mereka. Mungkin emang guenya ajah yang terlalu make perasaan. Susah emang buat ngubah sifat kaya gini, gak semua orang mengerti bagaimana susahnya. Beberapa orang cuma bisa jadiin ini bahan bercandaan terus ketawa pake mulut menganga padahal mulutnya bau pantat ayam janda.

Mungkin mereka, orang-orang yang jargon hidupnya "The less I care, the happier I will be" lah yang paling beruntung. Tapi pelajaran dari malam di mana gue insomnia ini adalah, banyak hal yang harus diubah. Juga, bagaimana rasa kepedulian itu harus memikirkan diri sendiri juga. Jangan sampai hanya karena demi kepentingan orang lain, kepentingan diri sendiri juga dilupakan. Egois? mungkin, ah tapi mungkin yang ngomong egois cuma mereka yang kesel karena terlalu manja sampe minta bantuan melulu.

Sebelum tulisan ini berakhir, akhirnya kakak gue menemukan makanannya Simon ini. Dan Simon, sekarang gak lagi mengeong dan mulai menjadi Simon seperti biasanya; yang kalau dipegang pas udah kenyang suka ngamuk dan mencakar-cakar. Seolah lupa beberapa menit yang lalu doi ngelepas gengsi dan memelas-melas.

Yeah, everybody's changing in a minute. Ralat; everycat.

17 February 2013

KOPI!

"Buruan!"

Fyuh…akhirnya sampai juga.

Icip.

Pedas mbak!

Butuh usaha ekstra untuk menyantap semua. Matanya lalu menyelonong ke atas meja lalu ke layar.

*******

paswordnya salah mba!

'KAPITAL SEMUA MAS" jawabnya lalu merebut nampan dari atas meja.

Kopi hitam, nasi goreng merapi, lampu kuning.
Ia memilih duduk di pojok karena di situ ia merasa aman.

Zoom out. Terlihat orang-orang lain juga sendiri.

Fyuuh…keringatnya menetes. Minimal tidak sendirian menjadi sendiri.

Diangkatnya cangkir kopi. Idenya tumpah ruah ke atas meja.
Semua orang menulis, dengan atau tanpa secangkir kopi.

Akhirnya sempurna juga.


Bandung,
di sebuah kafe di mana semua orang juga sendiri.
Minggu, 17 Februari 2013.

14 February 2013

Dewasa Itu Apa?

"Sikapnya yang dewasa dong, kaya si Dada tuh!"

Didi kesal kepada Dodo yang bersikap seperti kekanak-kanakkan. Menurut Didi, seharusnya Dodo tidak banyak tingkah, tidak banyak bicara. Menurutnya, Dodo seharusnya bersifat seperti Dada yang lebih banyak diam, dan menurutnya itu sangat dewasa.

Gue sendiri gak tau apa itu definisi dari sikap yang "Dewasa". Tapi dari pengalaman hidup gue, dengan lingkungan yang ngebentuk pikiran gue, gue sempet berpikir kalau "Dewasa" itu berarti pendiam, gak banyak tingkah, berwibawa dan bla-bla-bla.

Anggap ajah Dada, Didi dan Dodo ini 3 jenis orang yang ada di dunia. Dada si pendiam, Didi yang suka mengomentari, dan Dodo yang menurut Didi tidak bersifat dewasa. Gue yakin, semua orang pasti pernah bertemu dengan orang-orang macam mereka semua. Dan mungkin semua orang bakalan setuju kalau si Dada, yang gak banyak tingkah adalah orang yang dewasa.

Pernah gak kebayang kalau semua orang di dunia ini kaya Dada? Anggaplah si Dada ini orang yang pendiam, gak banyak omong, pakaian rapih, dan dipuja-puja karena dianggap bersifat dewasa. Hidup lo jadi kaya gimana? Tentram? Damai?

Terus apa? Hambar kali bos!

Kalau semua orang kaya Dada, terus siapa yang akan menyatukan mereka bertiga?

Mungkin orang-orang lebih membenci kepada Dodo, yang banyak tingkah, sok asik dan bla-bla. Mereka memuja Dada yang pendiam, berwibawa menurut mereka. Tapi pendiam sendiri ada dua macam; pendiam karena dari sononya emang pendiam, atau pendiam karena pilihan. Orang yang pendiam karena dari sononya, anggap ajah keluarga dan lingkungan sekitar yang ngebentuk dia kaya gitu, pastinya gak butuh usaha ekstra buat jadi pendiam. Coba bandingin dengan si Dodo yang dari sononya udah dibentuk menjadi orang yang banyak gerak, banyak tingkah dan bla-bla-bla, pastinya butuh usaha lebih ekstra buat jadi pendiam.

Semua manusia dilahirkan dan hidup dengan cara yang berbeda-beda. Kita semua berangkat dari rumah yang berbeda, ibu yang berbeda, ayah yang berbeda dan genetik yang berbeda pula. Belum lagi tingkatan ekonomi yang berbeda pula. Lalu, kenapa semua orang harus sama?

Maka silahkan nanti nikmati kehidupan ini, ketika semua orang menjadi seperti Dada. Pendiam, gak banyak tingkah, berwibawa dan sifat-sifat lainnya yang seringkali dikonotasikan dengan sifat dewasa, lalu dunia ini mau jadi apaan coba? Kita semua butuh orang-orang yang menahan kegengsiannya, bersedia untuk seringkali dibenci karena sifat sok asyiknya, bersedia untuk tidak banyak dipuja-puji karena "kedewasaannya", sehingga ia akan menyatukan semua orang-orang. Kalau semua orang kaya Dada, mungkin semua orang hanya akan hidup sendiri-sendiri. Semua orang akan gengsi untuk berbicara, dan menyatukan semua orang. Pada akhirnya semua orang hanya akan hidup sendiri-sendiri; kehidupan akan basi.

Maka mungkin dewasa dan berwibawa adalah dua hal yang berbeda. Maka mungkin Dada itu bukan orang yang bersifat dewasa seperti yang orang lain kira, ia sama sekali tidak butuh usaha untuk menjadi pendiam karena secara genetis ia memang dilahirkan untuk jadi orang yang lebih menyerupai arca.

Ah kampret, ini kenapa kepikiran gini sih. Gue sendiri masih belajar buat jadi dewasa, dan sialnya gue sendiri masih mikirin definisi dewasa. Di tulisan ini sengaja gue gak pake gaya penulisan yang so-so'an di buat dewasa. Tapi kalau memang diingankan gue bisa kok nulis pake Saya, Anda, Engkau, Kau, sampai Sampeyan.

Well, yeah. Pada akhirnya sih ini cuma semacam tulisan dari pikiran yang kayaknya mubazir kalau gak ditulis yang nantinya justru bikin insomnia. Semoga gue tetep inget buat bikin tulisan tentang "Kedewasaan" ini dengan lebih terstruktur suatu saat nanti.

13 February 2013

Menulis adalah Pulang

Tulisan di bawah ini sebenarnya dibuat untuk salah satu event untuk penulis di sebuah group Facebook. Yang secara tak sengaja saya temukan setelah beberapa lama berjuang untuk tertidur tapi tak jua berhasil, alhasil sayapun terjaga dan akhirnya memutuskan untuk ikut serta. Ternyata,….setelah tulisan telah dibuat, event ini sudah tutup beberapa hari yang lalu.

Ini adalah hasilnya, sebuah tulisan dimana saya harus menggambarkan apa itu keajaiban dunia tulis-menulis dengan maksimal satu halaman berukuran A4. Pelajaran kali ini, walaupun telat mengumpulkan kadang kita harus ngambil hikmahnya : paling enggak kita telah mencoba sesuatu.

Saya suka menulis sejak tubuh ini masih mini. Ketika itu cita-cita saya bejibun, mulai dari ingin menjadi power ranger, astronot, aktor, presiden, pembuat game dan lain-lain. Yang masing-masing memiliki durasinya masing-masing, sebulan ingin jadi astronot, seminggu ingin jadi aktor atau bahkan beberapa jam ketika ingin menjadi personil power rangers. Tapi saya menemukan kenyamanan saat pelajaran di sekolah meminta murid-muridnya menulis sebuah karangan. Wah saya bisa kehilangan kendali dan bercerita panjang lebar lewat kata-kata, yang kalau tak diberhentikan bisa meludeskan seluruh kertas dan pensil yang tersedia.

Saya suka sekali bercerita lewat kata-kata. Dengan menulis saya bisa menyelam menjadi siapapun yang saya mau, melakukan ini-itu lewat alunan kata-kata dalam cerita yang saya rancang. Bisa menjadi sutradara yang menyuruh ini melakukan ini atau itu, mengatur bagaimana sebuah konflik berjalan dan bagaimana semuanya akan berakhir. Saya mengatur semuanya, seolah-olah saya ini adalah Tuhan. Menulis adalah suatu cara untuk menjadi siapapun yang kita pinta.

Dengan menulis saya dapat menceritakan pengalaman saya lewat kata-kata. Semua pengalaman yang dialami lewat beragam panca indra, harus disarikan dan diolah menjadi kata-kata. Akhirnya saya harus mengembalikan semua itu kepada pembaca yang memiliki imajinasi masing-masing ketika membaca tulisan. Wah seru sekali, ketika satu pengalaman saya dapat berbentuk beraneka varian lewat imajinasi mereka.

Belum lagi dengan menulis saya dapat mengeluarkan seluruh isi pikiran yang selalu saya tampung dan jika didiamkan terus niscaya dapat menggelembung sebesar semesta. Menulis membuat saya dapat menyalurkan semua isi pikiran dalam tulisan saya secara perlahan-lahan, membiarkan otak saya memiliki ruang untuk akhirnya diisi kembali dengan beragam hal-hal yang baru. Menulis sebuah ruang untuk memperbaharui.

Dan ini yang paling penting, dengan menulis saya bisa tahu siapa sebenarnya saya ini. Selama ini banyak sekali manusia yang bertanya-tanya siapakah mereka. Dalam dunia menulis saya bisa tahu siapakah saya dengan membaca kembali seluruh tulisan yang pernah saya cipta. Rasanya seperti pulang ketika mencari jauh-jauh siapakah diri ini hingga akhirnya tersadar bahwa rumah itu ada tak jauh dari tempat selama ini tubuh berpijak : di dalam diri sendiri. Menulis adalah pintu untuk masuk kedalam rumah, yaitu diri ini. Menulis adalah pulang.

Kepada Mereka Yang Bertanya


Dunia itu seru, justru ketika semuanya tak seperti yang kau pinta. Misalnya seperti ini: berbicara, bergestur, bahkan tertawa dan bernafas dengan cara yang baru. Meninggalkan semua yang selama ini dikira cangkang yang melindungi, tapi justru mencekangmu.

Bertemu segala hal yang baru. Berjalan tanpa alas. Jadi pusat perhatian atau jadi latar. Jumpalitan. Tertawa bersama orang yang sama sekali tak kau tahu namanya. Mendengar walaupun tak mengerti mereka bicara tentang apa. Berada di tengah-tengah keluarga baru. Tertawa bersamamu, bukan mentertawaimu. Bermandikan air sumur. Jauh dari “dulu”. Jauh dari mereka yang selama ini menginginkanmu begitu. Menjauh untuk akhirnya kembali suatu saat nanti. Kembali karena kau mau, bukan karena mereka yang mau. Sendiri karena pilihan, bukan dengan mereka yang gemar membuatmu merasa sendiri.

Tak pedulilah nanti bagaimana. Mungkin jadi pedagang asongan, tukang pijat, atau pengamen dengan gitar yang asal digenjreng. Tak tahulah nanti bertemu siapa, mungkin preman pasar, artis papan atas atau tukang servis panci. Tak tahulah nanti di depan bagaimana, mungkin sawah, samudra atau tembok besar menghadang.


Kepada mereka yang bertanya, “Nanti bagaimana?”
Bagaimana nanti, jawabku.


DIY,
Kamis 15 November 2012

Bagaimana Berhenti

BAGAIMANA CARANYA BERHENTI BERPIKIR, KETIKA CARA MENGHENTIKANNYA HARUS MELALUI PROSES BERPIKIR?

11 February 2013

Problematika Seblak Basah

Kalau lu lagi megang duit, laper, dan ada penjual seblak basah di sekitar lu, gue saranin lu beli itu jajanan. Biar nasibnya gak sesial gue saat ini.

Kayaknya gue lagi kena sindrom seblak basah, semacam ngidam atau mungkin kecanduan. Padahal seblak basah gak ada nikotinnya ya? Gue gak mau ngomongin panjang lebar tentang definisi Seblak Basah macam Wikipedia atau riset dulu sana-sini ngumpulin data cuma buat ngomongin seblak basah. Ayolah, cuma seblak basah! Sialnya adalah, ada semacam hukum alam; sesuatu akan menghilang dari peredaran di saat lu membutuhkan itu. Kaya kunci, yang suka ilang kalau lu lagi buru-buru ada janji tapi gak ada yang ngejagain rumah, kamar, atau kamar kosan.

Nah ini juga yang gue alami saat ini.

Biasanya sih gue punya beberapa penjual seblak andalan kalau gue lagi kepengen beli jajanan ini. Dan sialnya adalah, mereka semua menghilang, justru ketika gue sangat mengidam-ngidamkan seblak basah yang nikmat tiada tara itu!

Atau mungkin ada semacam himpunan, Himpunan Mamang Seblak Bandung (HMSB) yang sepakat buat ngasih pelajaran ke gue. Karena beberapa hari sebelumnya, gue sempet tuh mau beli seblak basah, eh tapi karena satu dan lain hal, gue pun gak jadi beli seblak basah dan melarikan diri ke jajanan yang lain. Mungkin si mamang itu udah keburu sakit hati dan nge-blacklist gue, terus melapor ke HMSB tersebut sehingga gak akan ada lagi mamang seblak yang mau ngelayanin gue. Mungkin setiap mamang seblak akan mengumpat kalau ngeliat gerak-gerik gue yang sangat mencurigakan, lalu menyembunyikan gerobak mereka. Atau mungkin berkamuflase menjadi gerobak jajanan lain, siomay atau batagor, lumpia basah, atau nasi goreng misalnya.

Nah ini nih salah satu problematika kenapa susah mencari seblak basah. Doi gak kaya nasi goreng yang bisa dijangkau di mana ajah. Gue sendiri sampe muter-muter ke sana ke sini tapi gak dapet-dapet. Sempet pasrah dan pengen ngopi ajah, tapi pendirian gue bulat buat menemukan seblak ini sampai bensin habis.

Sialnya, bensin udah tipis. Dan gue tetep gak nemu-nemu. Di jalan, gue sempet berandai-andai kalau seblak basah itu dijual di minimarket-minimarket macam Indomaret, Alfamart atau Circle K. Tapi kudu masih panas. Nah kalau begitu kan enak tuh, gampang banget nafsu membara atas sebongkah seblak basah bisa terpenuhkan di setiap saat.

Ah, kampret. Semoga besok bisa nemuin seblak basah. Tapi curiga sih kalau pun besok ketemu penjual seblak, hasrat tak tertahankan atas hidangan seblak basah nan mengenakkan membahana ini mungkin keburu padam.

Problematika kehidupan nomor sekian.

05 February 2013

Novel Semanis Madu



The Secret Life of Bees, novel karya Sue Monk Kidd terbitan tahun 2002 yang sudah difilmkan ini masuk dalam daftar New York Times Best Seller. Filmnya yang ditayangkan pada tahun 2008 ini diperankan diantaranya oleh Dakota Fanning dan Alicia Keys. Novel ini bersetting tahun 1960an dimana saat itu hak asasi manusia belum dirasa “manis” oleh para penduduk berkulit hitam.

Lily Owens (14 tahun) punya masa lalu yang kelam, dia punya ingatan masa kecil  bahwa dia secara tidak sengaja membunuh Ibu kandungnya sendiri saat mereka akan kabur dari rumah karena Ayah yang jahat. T.Ray sang ayah ini memang jahat dan sering menyiksa Lily secara berlebihan hanya karena masalah sepele.  Mereka berdua hidup sebagai petani buah persik di pinggiran Sylvan, South Carolina, Amerika Serikat.

Untung setelah Ibu Lily meninggal dunia, ada Rosaleen. Wanita kulit hitam yang hampir-hampir tidak mempunyai sopan santun sama sekali dan sering membuat Lily jengkel, namun sebenernya sangat menyayangi Lily dan ingin memberikan yang terbaik untuknya. Sampai suatu ketika Lily ikut Rosaleen ke kota dan nasib malang menimpa mereka. Rosaleen yang ingin mendaftar untuk voting dilecehkan oleh 3 laki-laki berkulit putih yang sangat rasis, Rosaleen yang tak terima begitu sajah akhirnya meludahi sepatu mereka. Ketiga lelaki rasis itu pun geram lalu Rosaleen di aniaya dan mereka berdua dijebloskan ke penjara.

Lily hanya punya sepotong kenangan tentang Ibunya. Dan beberapa barang yang dia temukan, salah satunya sebuah gambar Black Mary dengan tulisan tangan ibunya sendiri dibagian belakang ; “Tiburon, South Carolina”. Dia membayangkan bagaimana Ibunya dulu pernah menapakkan kaki disana.

Lily masih beruntung bisa pulang ke rumah karena T.Ray datang menjemputnya. Namun Rosaleen tetap mendekam di penjara dan T.Ray tidak bisa berbuat apa-apa, masih untung Rosaleen tetap hidup, begitu katanya. Tentu sajah Lily sangat kehilangan sosok Rosaleen dan sangat ingin menolongnya keluar dari jeruji itu bagaimanapun caranya. Apalagi setelah T.Ray lagi-lagi menyiksa Lily karena merepotkannya  dan mengatakan bahwa Ibunya tidak mencintainya dan pergi meninggalkannya. Bebaskan Rosaleen lalu kabur ke Tiburon, pikirnya. Siapa tahu dia juga bisa bertemu dengan Ibunya dan membuktikan pada T.Ray bahwa omongannya tidak benar.

Lily dan Rosaleen akhirnya berhasil kabur. Di Tiburon mereka tinggal dalam sebuah rumah berwarna merah jambu  milik 3 saudari berkulit hitam. Lily mengaku sebagai anak yatim dan tidak mempunyai sanak saudara disana sehingga dia meminta untuk tinggal sementara dirumahnya sambil bekerja dan menabung untuk menemui bibinya di Virginia. Nama penghuni rumah itu diambil dari nama-nama bulan, August yang paling tua, lalu June dan May. June sendiri tidak suka pada Lily dan Rosaleen dan ingin agar segera mereka segera pergi.

Disana Lily belajar bagaimana dia mengolah madu dan hal-hal baik yang bisa dipelajari dari para lebah. Dia pun belajar bagaimana dia seharusnya mencintai dirinya sendiri, juga mencari tahu kebenaran tentang Ibunya dan cinta. Lily juga ikut serta pada upacara Daughters of Mary yang diadakan di rumah itu dan dipimpin langsung oleh August. Bagaimana orang-orang disana menerimanya dan mengajarkan padanya tentang menerima dan mencintai apa adanya tanpa sekat. Juga perasaannya pada cowok berkulit hitam yang menurutnya sangat manis, Zach.

Cerita tidak berfokus pada Lily, tapi juga tiap karakter didalam cerita. Bagaimana June selalu menolak untuk menikahi Neil namun tidak rela kehilangannya, lalu May yang selalu bisa “tertular” perasaan sedih dari orang lain, Zach yang ingin menjadi seorang pengacara dan mengadili semua orang tanpa memandang warna kulit, dan lainnya.

Manis, kata itu kayaknya pas buat menggambarkan novel ini, yang saya beli di sebuah toko yang khusus menjual buku-buku import bekas. Saya beruntung bisa mendapatkannya dengan kondisi yang saya suka; kover masih utuh, kertas yang kecoklatan, dan bau khas buku yang “hampir tua”. Jangan baca buku ini kalau niatnya untuk tahu lebih dalam tentang diskriminasi orang kulit hitam di Amerika tahun 60an, karena hal itu sebenernya cuma jadi latar disini. Ceritanya selain manis juga gak terlalu melankolis, ada kejujuran disana tanpa harus dibumbui kesedihan secara dramatis. Mengajarkan kepada kita bagaimana kita seharusnya menjalani hidup dengan menerima dan mencintai diri sendiri dan orang-orang disekitar kita, apapun yang telah terjadi.


“ Regrets don’t help anything, you know that. ” – August.

“ Drifting off to sleep, I tought about her. How nobody is perfect.  How you just have to close your eyes and breathe out and let the puzzle of the human heart be what it is. ” – Lily Owens.

“ If you need something from somebody, always give that person a way to hand it to you. “ – August.

“ No time like the present. “  - Rosaleen.

Kisah Pelancong Yang Mencari Makna Kebahagiaan


Apa sih definisi dari sebuah kebahagiaan? Gak semua orang bisa menjawab pertanyaan itu dengan sederhana, namun akan banyak yang menjawab jika diberikan pertanyaan apa itu penderitaan?. Eric Weiner, terusik dengan makna kebahagiaan dan berkeliling beberapa negara untuk mencari tahu dimana sih tempat paling membahagiakan di dunia ini?

Eric Weiner mendapatkan keuntungan bekerja sebagai jurnalis sehingga dia bisa berkeliling dunia dengan bantuan dana dari kantornya. Dengan bermodalkan buku catatan dan pena, khas seorang jurnalis ia pun berkeleliling beberapa negara seperti Swiss, Islandia, Bhutan, Amerika, India, Thailand, Moldova, Qatar, dan negara-negara lainnya yang memiliki keadaan negara dan juga kultur yang berbeda-beda.

Ini termasuk buku traveling, tapi lebih menyerupai novel sehingga gampang dicerna. Membacanya secara acak pun gak akan menjadi masalah, makin membuat nyaman membaca buku ini apalagi dengan suguhan imajinasi kita tentang tempat-tempat yang dia kunjungi (Buku ini minim gambar). Sayangnya terjemahan Bahasa Indonesia dalam buku ini ada sedikit kejanggalan di beberapa bagian, atau mungkin tepatnya terlampau kaku. Dan juga beberapa tulisan Eric Weiner sendiri, yang karena dia dan Indonesia memiliki budaya yang berbeda mungkin terlihat seperti kurang pas dengan budaya kita. Tapi justru itu membuat buku ini semakin menarik, melihat sudut pandang ia tentang beberapa kultur di Asia. Seperti bagaimana keadaan pasar yang bagi orang barat akan menjemukkan, becek sana-sini, dan gaung suara adzan untuk kaum muslim.

Tapi jangan berharap kamu akan dimana tempat paling membahagiakan di dunia ini, tapi dengan membaca buku The Geography of Bliss ini, banyak pelajaran selain tentang kebahagiaan juga tentang kultur di negara-negara lain yang bisa kita terapkan agar kita bisa lebih berbahagia. Seperti budaya “Mai Pen Rai” dari Thailand yang berarti “Tak apalah”, yang diucapkan ketika sesuatu yang tidak diharapkan terjadi.

“Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku.” – Paul Theroux