24 September 2014

Suatu Hari

Kutunggu kedatanganmu setelah sekian lama menjadi tetangga. Telah disiapkan kue-kue kering yang kupindahkan dari kaleng kepada toples kaca, kusapu bersih lantai dan debu-debu di sela-sela jendela. Tak lupa kupastikan pengharum ruangan bekerja. Setelah keringatku kering, kubersihkan benar-benar setiap jengkal kulitku siapa tau kau akan memerhatikannya sungguh-sungguh. Kukenakan baju yang tak terlalu baik namun cukup wajar seolah aku tak terlalu niat menjamu.

Tapi kau tak pernah memberitahuku tanggal, ketika kutunggu kau setiap jam.

Warung Kopi



Tahan ngantukmu dengan
mie dengan telur baik berkuah atau kering,
kepulan asap dari mulut bapak-bapak yang menceritakan istrinya,
hingga aroma kopi tubruk dalam gelas kecil.
Kau boleh terlelap nanti
setelah membayar dengan recehanmu,
berterima kasih,
dan menghadapi masalahmu sendiri
pada tanggal tua.

15 May 2014

Ada

Inginnya diawali dengan terlalu;
banyak jeda,
sedikit kemauan,
akhirnya tak ada;
konsistensi.

Terus harus bagaimana lagi?

Minum tiga gelas di satu waktu, cukup yang kecil. Kedip mata sampai cukup air buat liat layar laptop. Buka tab baru, tutup tab lama yang belum juga habis dilahap. Terus ngantuk, tapi makan dulu barang setengah sampai satu piring. Ya udah, selamat tidur.

06 November 2013

Daily Post: 18bc and 24a

Sesuai yang dijanjikan pas project 30 Daily Post, kalau gue kelewatan sehari, hukumannya adalah membuat 3 iklan apapun dengan brief random. Tujuannya ya biar skill menulis gue ini meningkat, atau minimal ya ada kemajuan walaupun minim. Gue 2 hari kelewat (hari ke 18 dan 24), tapi baru bikin 4. Sisa dua, belum kekejar karena ngurusin ini-itu-ini-itu-si ini-si itu-si anu-anunya si itu-itunya si anu-blahblah. Karena di sini warnanya jadi berubah, mungkin bisa dicek di kreavi.




05 November 2013

Bungsu Bangsat

Maaf judulnya rada kasar. Tapi setelah baca ini, mungkin kalian semua bakalan ngertiin dikit.

Alkisah gigi-gigi gue hidup dengan tentram di mulut. Gue urus mereka layaknya ibu mengurus anak-anaknya: tiap pagi gue mandiin, nyikatin dengan halus, saat malam tak lupa juga gue sikatin biar bisa bobo cantik. Belum lagi kalau gue makan, gue sisain mereka dikit-dikit. Sampai suatu ketika lahirlah seorang anak yang tak direncanakan, sebut saja si gigi bungsu (nama disamarkan untuk menghindari menyinggung beberapa pihak).

Gigi bungsu ini gak ada lucu-lucunya. Doi gak lahir dengan imut wajah manis kaya bayi lainnya yang saking manisnya bikin gemeteran buat meluk, takut pecah. Si gigi bungsu ini lahir tanpa tanda-tanda, langsung nongol aja gitu. Kelahiran dia, bikin gigi-gigi lain yang tadinya tentram damai laksana negeri dongeng mendadak kesakitan dan bertingkah aneh kayak zombie.

Sekarang gigi gue yang lain berantem melulu. Cemburu sih kayaknya, tapi bingung juga kenapa cemburu. Karena gue sama sekali gak sayang dengan gigi bungsu si anak haram ini. Gue malah gak yakin kalau dia anak gue, atau sebenernya dia ini akibat dari salah pilih program KB? Gak tau juga apakah karena gue gak minum susu kehamilan yang membuat doi jadi bertingkah aneh dan nularin kezombiannya ini ke gigi-gigi gue yang baik hati.

Sayangnya buat kalian yang juga kedapetan gigi bungsu ini, birokrasi buat ngusir doi rada ribet. Nakutin juga sih karena gue baca-baca kalau mau nyabutin si bungsu bangsat ini harus mastiin gak akan ngaruh ke syaraf yang lain. Malah di luar sono ada yang ko'it. Ah, gue harus banyak baca-baca lagi tentang cara mendepak si tengik ini.

Minimal, si gigi bungsu udah gak terlalu bikin ulah sekarang. Tapi gue tetep gak mau nyium keningnya sebelum bobo kaya gigi yang lain.

04 November 2013

Pangkas Rambut


Saya bukan termasuk orang yang ketat banget buat milih tempat pangkas rambut, kadang saya milih tempat yang emang lagi gak terlalu rame aja. Atau sekalian lagi sepi banget.

Yang paling saya suka dari cukur-mencukur sebenarnya bukan hasilnya aja sih, tapi seringkali mengobrol dengan tukang cukur itu jadi bikin punya verita sendiri. Apalagi dulu saya selalu mencukur di rumah, dengan tukang cukur langganan keluarga yang dipanggil untuk datang setiap waktu tertentu. Alhasil ketemunya itu lagi, itu lagi.

Waktu saya traveling ke Semarang misalnya, saya mengobrol dengan tukang cukur yang lagi asyik berkutat dengan rambut saya. Dia bercerita tentang daerahnya dulu yang penuh dengan orang-orang berjualan yang kini justru sepi. Yang paling saya ingat, dia bercerita tentang penjual nasi ayam yang tidak bisa menghitung tapi sekali kamu ke sana, porsi yang kamu dapet bener-bener jumbo. Sang pedagang cuma menghitung menggunakan perasaan, toh dia juga seringkali tidak melihat. Entah karena porsinya, atau karena ketidak mampuannya, usahanya laku keras. Orang-orang yang datang ke sana pun berbadan tambun, mau orang dewasa atau anak kecil. Kalau pun gak berbadan tambun, sisa makanannya masih bisa dibungkus untuk disantap lain waktu.

Ada juga tukang cukur yang pernah iri dengan rambut saya. Dia ingin sekali punya rambut keriting karena katanya sih lebih artistik aja. Dia juga menyarankan hal-hal yang aneh, yaitu untuk "men-creambath" rambut saya dengan tinja kerbau. Di kampungnya orang-orang sering menggunakan feses binatang sawah itu untuk ke rambut agar tampak indah. Hahaha saya sih iyain aja, tapi gak janji akan mengikuti saran dia.

Kalau foto di atas, itu tempat pangkas rambut saya tadi. Entah kenapa, uang datang tadi pagi didominasi oleh orang-orang tua. Kakek-kakek sporty yang baru pulang dari jogging keliling komplek. Mereka sepertinya udah langganan sih, karena akrab sekali dan bahkan tidak perlu memberi arahan rambutnya yang abu-abu ingin diapakan.

Tempat pangkas rambut yang merakyat emang punya ciri khas sendiri sih. Beda sama di mall-mall. Yang entah karena capek atau apa, gak seseru diajak ngobrol dengan tukang pangkas rambut di pinggir jalan. Biasanya ya ngibrolin artis atau entah siapa ke rekan kerjanya.

Sayangnya saya belum pernah cukur di aatu tempat/jenis yang saya pengen: di bawah pohon. Tukang cukur di bawah pohon pasti punya keunikan sendiri, selain suasananya, saya pengen tau dia akan bercerita tentang apa.

21 October 2013

Nobody Understands You


Not everybody can understand you. Or worse, nobody understands you. Whatever you try to tell them, how softly you speak, they just won't understand. Or worse, they won't listen. We live in a world when people love to share. Share what they want to: how cool their vacation, how tasty their breakfast, how outgoing they are with hanging out to some cool places. Everybody loves to share about their happiness. Or worse, share about how drama their life. And it's going around and around.

Life's not cool. Admit it. I don't say that life is sucks too. Life just the way it is. You could run with a smile painted on your face and the next hours you cry. It's ok to cry, we're human not a machine. Everybody arounds me changing, the way I'm changing too. We can't blame anyone about anything. It's just life the way it is.

I grown up with some thoughts in my mind. Like how I want in my entire life. One of them is : I want to be friends with everybody around the world. Literally everybody. Yes it could be the president, the first woman who stepping in a new land outerspace, and you. Yes I have some friends to laugh with, changes every year, in a different places, come and go. I want to do something they wanted me to do. Being jerks, being smart with read similiar articles on the internet, cool enough with using slang words et cetera.

But I realize that I can't hang on them. Any of them. Even my family. People change, they move. How can I hang on something that move? My friend once said to me "Friends are come and go. You might be afraid to loose your friends. But you will. It hurts. And you have to believe to that friends made by your step. Whenever you go you'll always meet some people then become friends." As a emotional person it sounds like an offensive talk. But it still ticking in my mind, try to remind me about it. The conclusion is: I'm agree.

So when you think that friends around you just don't give some positive energy around you: CHECK. It should be an alarm to tell you that something's wrong. It could be them, or you. I don't want to be a motivator 'cause I'm still love to kick some jerks. Remember what I said before: not everybody can understand you. They're not your foe just because they don't have a concern to listen. Sometimes you just have to change your perspective. But how you can change your perspective if you spend your day trying to be what they wanted you to be? You're not a sheep, even if you're a sheep you should not follow the path they are going. We're all have our own way. Or best.

I love the photo above. Represents how I feel this recent weeks. I'm trying to let the way they are. Accept everything. Then change. There is something worse than having no friends who listen to you: being unable to listen yourself.

Photo from http://www.ignant.de/2011/10/18/bernhard-lang/