Pages

Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

18 September 2013

The Kid with a Bike


Sometimes I thought that I get bored for watching some movies because it lack of background music. But now I know it's wrong. Some movies are still great even without much music that dramatize the plot. Like this French film: The Kid With a Bike.

Cyril, who was left by his father trying to find him but makes some troubles. He wants to get his bicycle back, know where's his father and live with him. But his father abandoned him. Luckily, there is a hairdresser named Samantha who foster him on every weekend.

But bad boy is still gonna be bad. He makes some troubles again. Enough, you have to watch it yourself. I don't say that it's an interesting movies since I know most of people don't like kind of movies like this. But it's worth to watch.

14 September 2013

Kerja Optimal Tanpa Kabel Berbelit


Coba pikirkan, sudah berapa kali pekerjaan Anda dibatasi oleh kabel keyboard dan mouse Anda? Pergerakan tangan Anda jadi tak memiliki keluwesan atau bahkan harus berkutat untuk membenarkan kembali kabel yang berbelit-belit. Bahkan Anda harus dekat-dekat dengan komputer untuk menyelesaikan pekerjaan, ketika diri Anda ingin sekedar duduk bersantai di atas sofa. Tapi, bisakah kita berbaring di sofa yang mengistirahatkan punggung dengan pekerjaan tetap terselesaikan?

Tentu saja bisa. Logitech Wireless Combo MK 520 memberikan Anda lebih dari itu. Desainnya yang ramping dengan kontur tombol yang membulat siap memanjakan tangan Anda menyelesaikan pekerjaan demi pekerjaan. Bosan? Tekan saja tombol play untuk memainkan musik, sudah disediakan keperluan multimedia khusus untuk Anda dalam satu perangkat. Ah, jangan lupakan kenyamanan tangan Anda yang mengontrol mouse. Dengan kontur dan genggaman karet yang lembut siap memanjakan tangan Anda ketika bekerja.

Untuk apa risau untuk selalu mengganti baterai? Karena baterai yang tahan lama hingga 3 tahun untuk keyboard dan satu tahun untuk mouse ini mengerti waktu Anda yang berharga.

Sama seperti kami menghargai waktu dan pekerjaan Anda. Maka Anda tak perlu untuk keluar ruangan dan meninggalkan pekerjaan yang penting untuk mendapatkan semuanya. Cukup dengan mengunjungi http://www.pricepanda.co.id/logitech-wireless-combo-mk520-pid1162400/ dan www.makanja.com Anda tetap dapat menyelesaikan pekerjaan di tempat dan biarkan kami yang mengirimnya untuk Anda.

05 May 2013

Pacar Mainan


Kalau di film Drive (2011) Ryan Gosling berlaga cool dan macho dengan aksi ngebut-ngebutan dan tembak-tembakkan yang membuat Carey Mulligan kesemsem, maka di film berdurasi satu setengah jam ini dia justru jadi kebalikannya.

Lars adalah anak kedua dari keluarga Lindstorm yang taat pergi ke gereja  dan tinggal di rumah sederhananya yang jarang sekali bersosialisasi dengan orang-orang sekitar. Apalagi masalah menggaet cewek. Alhasil di umurnya yang sudah 27 tahun, dia tidak memiliki relasi dengan siapapun.


Karin (Emily Mortimer), istri dari Gus atau kakak kandung Lars yang sedang hamil ini khawatir dengan keadaan adik iparnya tersebut. Ia pun berusaha mengajaknya untuk sekedar sarapan, atau makan malam di rumahnya yang hanya terletak beberapa meter di depan rumah Lars agar ia tidak menutup diri lagi. Namun dengan berbagai alasan Lars menolaknya, atau sekalipun datang ia hanya berkutat dengan makanan yang disajikan dan tidak mengeluarkan sepatah katapun.

Hingga suatu saat usaha Karin ini terbayar, Lars datang sendiri ke rumahnya dan meminta bantuan karena ia kedatangan seorang tamu wanita. Tentu saja ia sangat bahagia dan bersedia menyiapkan apapun untuk menyambut satu-satunya wanita yang bisa membuat Lars menjadi lebih terbuka.

Dan satu-satunya wanita yang membuat Lars berubah itu ternyata hanya sebuah boneka.

Lars and the Real Girl adalah film drama comedy tidak hanya membuat tertawa namun juga menyentuh sisi emosional. Dalam film ini Craig Gillespie tidak membicarakan panjang lebar mengenai masalah keluarga yang dihadapi Lars, Gus serta ayah dan ibunya sehingga berdampak pada kehidupan mereka. Namun bagaimana reaksi masyarakat sekitar terhadap orang-orang seperti Lars ini dan bagaimana penonton diharapkan menjadi lebih peka terhadap keadaan sekitar. Misalnya bagaimana teman-teman Lars "meladeni" permainan yang dijalankan oleh Lars dalam pikirannya sendiri dengan ikut serta dalam permainan.

Film ini juga mengingatkan kepada film-film sejenis lainnya, seperti Robbin Williams di One Hour Photo (2002), film dari negeri sakura; Air Doll (2009), atau Jared Letto vokalis 30 Seconds to Mars di Mr. Nobody (2009). Yang pasti, buat siapapun yang menginginkan film selain lucu juga membuat kita berpikir wajib menonton film satu ini.

"We came over and sit, that's what people do when tragedy strikes."

Komedi Italia yang Menyentil


Bagaimana rasanya ketika kita harus menghadapi lingkungan baru yang tak hanya berbeda jauh, namun juga terkenal bisa membuat siapa pun tidak betah berlama-lama di sana?

Maka tanyakanlah kepada seorang manager kantor pos, Alberto Colombo yang diperankan secara apik oleh Claudio Bisio di Benvenuti al Sud, ketika ia harus dipindah tugaskan dari sebuah kota di daerah utara Italia ke Castellabate, sebuah daerah di selatan yang digandang-gandang membuat siapapun pendatang di sana akan menangis menjerit-jerit ingin pulang dan tak mau kembali.

Suhu yang sangat dingin, cara bicara orang-orang yang tak jelas, makanan-makanan yang buruk seperti cokelat yang dicampur dengan daging babi, dan desas-desus lainnya cukup untuk membuat siapapun berpikir sejuta kali untuk tinggal di sana. Tapi Alberto tak punya pilihan lain jika masih ingin bekerja. Dengan terpaksa ia pun meninggalkan Silvia, istrinya yang sering mengomel beserta anaknya sendiri yang tak mau tinggal bersamanya di Castellabate.

Awalnya ia memang sangat membenci tinggal di tempatnya yang baru. Semua orang ia curigai mempunyai niat ingin mencelakainya, dan ia menolak semua orang yang menawarkanya secangkir kopi atau sekedar menikmati hari bersama. Ia mencibiri sifat ketidakefisienan penduduk Castellabate yang masih berpegang teguh pada frasa "Dolce far niente" atau "The sweetness of doing nothing" dibandingkan menggunakan waktu mereka untuk hal-hal yang produktif. Karena tak betah, ia selalu menyempatkan pulang ke daerah asalnya setiap dua minggu sekalipun jaraknya cukup jauh.

Seiring cerita, penonton disuguhkan bagaimana seorang pekerja keras yang sering mengeluh, belajar mencintai hidupnya dengan cara yang berbeda. Juga bagaimana sebetulnya masalah buruk dan baik hanyalah tergantung dari sudut pandang. Belum lagi konflik yang berkembang seiring film ini yang membuat cerita semakin kaya.

Universal
Film berdurasi 104 menit yang memenangkan 5 penghargaan dari 16 nominasi ini memang berlokasi dan berasal dari olahan sang sutradara Italia, Luca Miniero. Tapi pesan dari film ini sendiri sesungguhnya universal; membuat kita untuk tidak menilai sesuatu sebelum kita merasakannya langsung. Belum lagi unsur-unsur komedi yang ada pun bisa dimengerti oleh siapapun, bahkan yang tidak mengetahui apa yang terjadi di negeri yang terkenal dengan beragam kopinya itu.

Pembelajaran
Menonton film ini seolah ingin mengukuhkan betapa cerdasnya film-film komedi dari benua Eropa. Mereka tidak hanya menjual tawa, tapi juga pembelajaran baik dari cerita yang menginspirasi, juga dengan unsur visual dan penataan musik yang sangat apik. Hal ini sepatutnya dapat menjadi bahan referensi untuk sineas-sineas Indonesia agar membuat sebuah film yang tidak hanya mengundang gelak tawa dan laris manis di pasaran, namun juga menginspirasi mereka lewat dunia perfilman dengan mengangkat isu-isu di negeri sendiri.

Film ini sebetuknya merupakan remake dari film Prancis berjudul "Bienvenue chez les Ch'tis" yang juga sukses pada tahun 2008. Sekalipun tidak keluar dari pakem-pakem film sebelumnya, Benvenuti Al Sud ini tetap saja dikemas dengan lebih segar, lucu, dan tentunya menyentil. Kalau jeli, kita bisa menangkap basah sutradara dan pemain film sebelumnya, Dany Boon yang menjadi cameo di sini.

05 February 2013

Novel Semanis Madu



The Secret Life of Bees, novel karya Sue Monk Kidd terbitan tahun 2002 yang sudah difilmkan ini masuk dalam daftar New York Times Best Seller. Filmnya yang ditayangkan pada tahun 2008 ini diperankan diantaranya oleh Dakota Fanning dan Alicia Keys. Novel ini bersetting tahun 1960an dimana saat itu hak asasi manusia belum dirasa “manis” oleh para penduduk berkulit hitam.

Lily Owens (14 tahun) punya masa lalu yang kelam, dia punya ingatan masa kecil  bahwa dia secara tidak sengaja membunuh Ibu kandungnya sendiri saat mereka akan kabur dari rumah karena Ayah yang jahat. T.Ray sang ayah ini memang jahat dan sering menyiksa Lily secara berlebihan hanya karena masalah sepele.  Mereka berdua hidup sebagai petani buah persik di pinggiran Sylvan, South Carolina, Amerika Serikat.

Untung setelah Ibu Lily meninggal dunia, ada Rosaleen. Wanita kulit hitam yang hampir-hampir tidak mempunyai sopan santun sama sekali dan sering membuat Lily jengkel, namun sebenernya sangat menyayangi Lily dan ingin memberikan yang terbaik untuknya. Sampai suatu ketika Lily ikut Rosaleen ke kota dan nasib malang menimpa mereka. Rosaleen yang ingin mendaftar untuk voting dilecehkan oleh 3 laki-laki berkulit putih yang sangat rasis, Rosaleen yang tak terima begitu sajah akhirnya meludahi sepatu mereka. Ketiga lelaki rasis itu pun geram lalu Rosaleen di aniaya dan mereka berdua dijebloskan ke penjara.

Lily hanya punya sepotong kenangan tentang Ibunya. Dan beberapa barang yang dia temukan, salah satunya sebuah gambar Black Mary dengan tulisan tangan ibunya sendiri dibagian belakang ; “Tiburon, South Carolina”. Dia membayangkan bagaimana Ibunya dulu pernah menapakkan kaki disana.

Lily masih beruntung bisa pulang ke rumah karena T.Ray datang menjemputnya. Namun Rosaleen tetap mendekam di penjara dan T.Ray tidak bisa berbuat apa-apa, masih untung Rosaleen tetap hidup, begitu katanya. Tentu sajah Lily sangat kehilangan sosok Rosaleen dan sangat ingin menolongnya keluar dari jeruji itu bagaimanapun caranya. Apalagi setelah T.Ray lagi-lagi menyiksa Lily karena merepotkannya  dan mengatakan bahwa Ibunya tidak mencintainya dan pergi meninggalkannya. Bebaskan Rosaleen lalu kabur ke Tiburon, pikirnya. Siapa tahu dia juga bisa bertemu dengan Ibunya dan membuktikan pada T.Ray bahwa omongannya tidak benar.

Lily dan Rosaleen akhirnya berhasil kabur. Di Tiburon mereka tinggal dalam sebuah rumah berwarna merah jambu  milik 3 saudari berkulit hitam. Lily mengaku sebagai anak yatim dan tidak mempunyai sanak saudara disana sehingga dia meminta untuk tinggal sementara dirumahnya sambil bekerja dan menabung untuk menemui bibinya di Virginia. Nama penghuni rumah itu diambil dari nama-nama bulan, August yang paling tua, lalu June dan May. June sendiri tidak suka pada Lily dan Rosaleen dan ingin agar segera mereka segera pergi.

Disana Lily belajar bagaimana dia mengolah madu dan hal-hal baik yang bisa dipelajari dari para lebah. Dia pun belajar bagaimana dia seharusnya mencintai dirinya sendiri, juga mencari tahu kebenaran tentang Ibunya dan cinta. Lily juga ikut serta pada upacara Daughters of Mary yang diadakan di rumah itu dan dipimpin langsung oleh August. Bagaimana orang-orang disana menerimanya dan mengajarkan padanya tentang menerima dan mencintai apa adanya tanpa sekat. Juga perasaannya pada cowok berkulit hitam yang menurutnya sangat manis, Zach.

Cerita tidak berfokus pada Lily, tapi juga tiap karakter didalam cerita. Bagaimana June selalu menolak untuk menikahi Neil namun tidak rela kehilangannya, lalu May yang selalu bisa “tertular” perasaan sedih dari orang lain, Zach yang ingin menjadi seorang pengacara dan mengadili semua orang tanpa memandang warna kulit, dan lainnya.

Manis, kata itu kayaknya pas buat menggambarkan novel ini, yang saya beli di sebuah toko yang khusus menjual buku-buku import bekas. Saya beruntung bisa mendapatkannya dengan kondisi yang saya suka; kover masih utuh, kertas yang kecoklatan, dan bau khas buku yang “hampir tua”. Jangan baca buku ini kalau niatnya untuk tahu lebih dalam tentang diskriminasi orang kulit hitam di Amerika tahun 60an, karena hal itu sebenernya cuma jadi latar disini. Ceritanya selain manis juga gak terlalu melankolis, ada kejujuran disana tanpa harus dibumbui kesedihan secara dramatis. Mengajarkan kepada kita bagaimana kita seharusnya menjalani hidup dengan menerima dan mencintai diri sendiri dan orang-orang disekitar kita, apapun yang telah terjadi.


“ Regrets don’t help anything, you know that. ” – August.

“ Drifting off to sleep, I tought about her. How nobody is perfect.  How you just have to close your eyes and breathe out and let the puzzle of the human heart be what it is. ” – Lily Owens.

“ If you need something from somebody, always give that person a way to hand it to you. “ – August.

“ No time like the present. “  - Rosaleen.

Kisah Pelancong Yang Mencari Makna Kebahagiaan


Apa sih definisi dari sebuah kebahagiaan? Gak semua orang bisa menjawab pertanyaan itu dengan sederhana, namun akan banyak yang menjawab jika diberikan pertanyaan apa itu penderitaan?. Eric Weiner, terusik dengan makna kebahagiaan dan berkeliling beberapa negara untuk mencari tahu dimana sih tempat paling membahagiakan di dunia ini?

Eric Weiner mendapatkan keuntungan bekerja sebagai jurnalis sehingga dia bisa berkeliling dunia dengan bantuan dana dari kantornya. Dengan bermodalkan buku catatan dan pena, khas seorang jurnalis ia pun berkeleliling beberapa negara seperti Swiss, Islandia, Bhutan, Amerika, India, Thailand, Moldova, Qatar, dan negara-negara lainnya yang memiliki keadaan negara dan juga kultur yang berbeda-beda.

Ini termasuk buku traveling, tapi lebih menyerupai novel sehingga gampang dicerna. Membacanya secara acak pun gak akan menjadi masalah, makin membuat nyaman membaca buku ini apalagi dengan suguhan imajinasi kita tentang tempat-tempat yang dia kunjungi (Buku ini minim gambar). Sayangnya terjemahan Bahasa Indonesia dalam buku ini ada sedikit kejanggalan di beberapa bagian, atau mungkin tepatnya terlampau kaku. Dan juga beberapa tulisan Eric Weiner sendiri, yang karena dia dan Indonesia memiliki budaya yang berbeda mungkin terlihat seperti kurang pas dengan budaya kita. Tapi justru itu membuat buku ini semakin menarik, melihat sudut pandang ia tentang beberapa kultur di Asia. Seperti bagaimana keadaan pasar yang bagi orang barat akan menjemukkan, becek sana-sini, dan gaung suara adzan untuk kaum muslim.

Tapi jangan berharap kamu akan dimana tempat paling membahagiakan di dunia ini, tapi dengan membaca buku The Geography of Bliss ini, banyak pelajaran selain tentang kebahagiaan juga tentang kultur di negara-negara lain yang bisa kita terapkan agar kita bisa lebih berbahagia. Seperti budaya “Mai Pen Rai” dari Thailand yang berarti “Tak apalah”, yang diucapkan ketika sesuatu yang tidak diharapkan terjadi.

“Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku.” – Paul Theroux