Pages

Showing posts with label Whatever. Show all posts
Showing posts with label Whatever. Show all posts

15 May 2014

Ada

Inginnya diawali dengan terlalu;
banyak jeda,
sedikit kemauan,
akhirnya tak ada;
konsistensi.

Terus harus bagaimana lagi?

Minum tiga gelas di satu waktu, cukup yang kecil. Kedip mata sampai cukup air buat liat layar laptop. Buka tab baru, tutup tab lama yang belum juga habis dilahap. Terus ngantuk, tapi makan dulu barang setengah sampai satu piring. Ya udah, selamat tidur.

05 November 2013

Bungsu Bangsat

Maaf judulnya rada kasar. Tapi setelah baca ini, mungkin kalian semua bakalan ngertiin dikit.

Alkisah gigi-gigi gue hidup dengan tentram di mulut. Gue urus mereka layaknya ibu mengurus anak-anaknya: tiap pagi gue mandiin, nyikatin dengan halus, saat malam tak lupa juga gue sikatin biar bisa bobo cantik. Belum lagi kalau gue makan, gue sisain mereka dikit-dikit. Sampai suatu ketika lahirlah seorang anak yang tak direncanakan, sebut saja si gigi bungsu (nama disamarkan untuk menghindari menyinggung beberapa pihak).

Gigi bungsu ini gak ada lucu-lucunya. Doi gak lahir dengan imut wajah manis kaya bayi lainnya yang saking manisnya bikin gemeteran buat meluk, takut pecah. Si gigi bungsu ini lahir tanpa tanda-tanda, langsung nongol aja gitu. Kelahiran dia, bikin gigi-gigi lain yang tadinya tentram damai laksana negeri dongeng mendadak kesakitan dan bertingkah aneh kayak zombie.

Sekarang gigi gue yang lain berantem melulu. Cemburu sih kayaknya, tapi bingung juga kenapa cemburu. Karena gue sama sekali gak sayang dengan gigi bungsu si anak haram ini. Gue malah gak yakin kalau dia anak gue, atau sebenernya dia ini akibat dari salah pilih program KB? Gak tau juga apakah karena gue gak minum susu kehamilan yang membuat doi jadi bertingkah aneh dan nularin kezombiannya ini ke gigi-gigi gue yang baik hati.

Sayangnya buat kalian yang juga kedapetan gigi bungsu ini, birokrasi buat ngusir doi rada ribet. Nakutin juga sih karena gue baca-baca kalau mau nyabutin si bungsu bangsat ini harus mastiin gak akan ngaruh ke syaraf yang lain. Malah di luar sono ada yang ko'it. Ah, gue harus banyak baca-baca lagi tentang cara mendepak si tengik ini.

Minimal, si gigi bungsu udah gak terlalu bikin ulah sekarang. Tapi gue tetep gak mau nyium keningnya sebelum bobo kaya gigi yang lain.

04 November 2013

Pangkas Rambut


Saya bukan termasuk orang yang ketat banget buat milih tempat pangkas rambut, kadang saya milih tempat yang emang lagi gak terlalu rame aja. Atau sekalian lagi sepi banget.

Yang paling saya suka dari cukur-mencukur sebenarnya bukan hasilnya aja sih, tapi seringkali mengobrol dengan tukang cukur itu jadi bikin punya verita sendiri. Apalagi dulu saya selalu mencukur di rumah, dengan tukang cukur langganan keluarga yang dipanggil untuk datang setiap waktu tertentu. Alhasil ketemunya itu lagi, itu lagi.

Waktu saya traveling ke Semarang misalnya, saya mengobrol dengan tukang cukur yang lagi asyik berkutat dengan rambut saya. Dia bercerita tentang daerahnya dulu yang penuh dengan orang-orang berjualan yang kini justru sepi. Yang paling saya ingat, dia bercerita tentang penjual nasi ayam yang tidak bisa menghitung tapi sekali kamu ke sana, porsi yang kamu dapet bener-bener jumbo. Sang pedagang cuma menghitung menggunakan perasaan, toh dia juga seringkali tidak melihat. Entah karena porsinya, atau karena ketidak mampuannya, usahanya laku keras. Orang-orang yang datang ke sana pun berbadan tambun, mau orang dewasa atau anak kecil. Kalau pun gak berbadan tambun, sisa makanannya masih bisa dibungkus untuk disantap lain waktu.

Ada juga tukang cukur yang pernah iri dengan rambut saya. Dia ingin sekali punya rambut keriting karena katanya sih lebih artistik aja. Dia juga menyarankan hal-hal yang aneh, yaitu untuk "men-creambath" rambut saya dengan tinja kerbau. Di kampungnya orang-orang sering menggunakan feses binatang sawah itu untuk ke rambut agar tampak indah. Hahaha saya sih iyain aja, tapi gak janji akan mengikuti saran dia.

Kalau foto di atas, itu tempat pangkas rambut saya tadi. Entah kenapa, uang datang tadi pagi didominasi oleh orang-orang tua. Kakek-kakek sporty yang baru pulang dari jogging keliling komplek. Mereka sepertinya udah langganan sih, karena akrab sekali dan bahkan tidak perlu memberi arahan rambutnya yang abu-abu ingin diapakan.

Tempat pangkas rambut yang merakyat emang punya ciri khas sendiri sih. Beda sama di mall-mall. Yang entah karena capek atau apa, gak seseru diajak ngobrol dengan tukang pangkas rambut di pinggir jalan. Biasanya ya ngibrolin artis atau entah siapa ke rekan kerjanya.

Sayangnya saya belum pernah cukur di aatu tempat/jenis yang saya pengen: di bawah pohon. Tukang cukur di bawah pohon pasti punya keunikan sendiri, selain suasananya, saya pengen tau dia akan bercerita tentang apa.

21 October 2013

Nobody Understands You


Not everybody can understand you. Or worse, nobody understands you. Whatever you try to tell them, how softly you speak, they just won't understand. Or worse, they won't listen. We live in a world when people love to share. Share what they want to: how cool their vacation, how tasty their breakfast, how outgoing they are with hanging out to some cool places. Everybody loves to share about their happiness. Or worse, share about how drama their life. And it's going around and around.

Life's not cool. Admit it. I don't say that life is sucks too. Life just the way it is. You could run with a smile painted on your face and the next hours you cry. It's ok to cry, we're human not a machine. Everybody arounds me changing, the way I'm changing too. We can't blame anyone about anything. It's just life the way it is.

I grown up with some thoughts in my mind. Like how I want in my entire life. One of them is : I want to be friends with everybody around the world. Literally everybody. Yes it could be the president, the first woman who stepping in a new land outerspace, and you. Yes I have some friends to laugh with, changes every year, in a different places, come and go. I want to do something they wanted me to do. Being jerks, being smart with read similiar articles on the internet, cool enough with using slang words et cetera.

But I realize that I can't hang on them. Any of them. Even my family. People change, they move. How can I hang on something that move? My friend once said to me "Friends are come and go. You might be afraid to loose your friends. But you will. It hurts. And you have to believe to that friends made by your step. Whenever you go you'll always meet some people then become friends." As a emotional person it sounds like an offensive talk. But it still ticking in my mind, try to remind me about it. The conclusion is: I'm agree.

So when you think that friends around you just don't give some positive energy around you: CHECK. It should be an alarm to tell you that something's wrong. It could be them, or you. I don't want to be a motivator 'cause I'm still love to kick some jerks. Remember what I said before: not everybody can understand you. They're not your foe just because they don't have a concern to listen. Sometimes you just have to change your perspective. But how you can change your perspective if you spend your day trying to be what they wanted you to be? You're not a sheep, even if you're a sheep you should not follow the path they are going. We're all have our own way. Or best.

I love the photo above. Represents how I feel this recent weeks. I'm trying to let the way they are. Accept everything. Then change. There is something worse than having no friends who listen to you: being unable to listen yourself.

Photo from http://www.ignant.de/2011/10/18/bernhard-lang/

02 October 2013

Daily Post 23 : Boker to Bring Happiness

Seburuk-buruknya beban yang ada di pundak lu sekarang ini, jangan pernah ngelupain satu hal. Enggak, gue gak akan bilang "Semuanya akan menjadi lebih baik" atau "Ada seseorang yang mendukungmu". Nyatanya sih temen-temen lu ninggalin lu kalau hidup lagi gelap-gelapnya, semuanya jadi tambah buruk bos. Tapi jangan ngelupain satu kenikmatan yang tiada tara : boker.

Boker adalah suatu kegiatan ketika kita mengeluarkan feses, atau sisa-sisa proses pencernaan yang dikeluarkan melalui anus. Sebelum boker, tubuh akan mengirim sinyal kepada perut kita yang dikenal oleh masyarakat luas dengan nama "mules". Mules dan boker ibarat hidup. Mules ibarat beban hidup yang ditampung oleh kita semua, dan boker adalah masa-masa bahagia.

Boker adalah salah satu waktu kebahagiaan buat gue, dan kalian. Lu bisa boker saat masa apapun. Saat lagi bete kartu ATM nyangkut di mesin yang lemoooootnya stadium sepuluh (ini baru aja kejadian sama gue), atau lagi gak bisa ngelupain orang, lu tetep bisa boker! Indah banget ya hidup. Ngeluarin tai-tai kehidupan itu nikmatnya gak bisa diganti. Gue ngebayangin, kalau R.Kelly bikin lagu "I Believe I Can Fly" ini sambil boker di pispot jongkok, dengan tai-tai keras nyemplung satu-persatu. Eh, gue gak tau yang bikin tuh lagu doi apa bukan.

Udah sih itu doang, boker emang gak bisa diungkapin dengan kata-kata. Belum ketemu metode apa yang tepat. Mungkin nanti ada buku "How to Write About "Boker" for Dummies", atau "Boker Copywriting that Sells".

Nungguin mules dateng dulu ah.

26 September 2013

Daily Post 17 : Sorry

I just realize that I haven't pass this project yet. But yesterday when I was working on some college task I thought that I just broke my promise to myself. The best thing is...I still wrote it. Below is my writing yesterday.

This is the latest post I've ever written. And I'm feel so sorry about this. This is my fault, and I should have a punishment. I don't know what kind of punishment I should have. I DON'T EVEN EXPECT THAT I WILL PASS IT, SO I'M NOT PREPARING FOR IT. Yeah, even the worst man in the world who killed one hundred people had forgiven from god. So please forgive me for this. And this is weird when I ask sorry to myself. Am I crazy?

I hope no.

So, lets start writing again.


So I grab a random ideas again, and I found "PEN, COMPUTER, ENEMIES". Hmmm....maybe they are enemies? Or pen had fallen in love with computer, but the computer cheated on him/her? Or it could be about a pen who envy to the computer, or otherwise?

The last one, I choose.

I HATE YOU PEN.

How could be so free? You don't even need electricity to live. I'm envy you. For real. And I don't know how to say it to you. Is it just me or love and hate are the same thing? It's just have a different direction might be. North and south. I want to be like you who can going outside, know how it feels to hear the birds singing, hugged in a palm, know how the blood pressure feels like. Fuck you.

I'm stuck in the room with so many question that I only will be answered if I experience by myself. Have I told about the people? They will kick on the ass, literally when I getting so slow. They will replace me with the new one when I'm outdated.

Can I shrinked? Be so small, thin like you?

Can I?

Someone, please turn off me.

25 September 2013

Daily Post 16 : ITALIA

Kamus         : Kamu, udah lama juga?

Travel book : Iya, liat deh sampe debuan kaya begini.

Kamus         : Ah, itu orang emang udah males sih!

Travel book : Dia main sama kita pas di awal-awal aja. Sekarang udah enggak, sebel emang!

Kamus         : Kamu mending, udah biasa dianggurin di toko buku. Kamu kan second!

Travel book : Hei, tapi dia milih aku niat banget. Sampe nyari di internet. Dia juga jadi tau kafe tempat
                      aku dulu tinggal. Dia suka banget kafe itu sampe sekarang. Lah kamu?

Kamus         : Biarin dong! Yang penting aku masih baru. Biarpun dia beli aku karena kebetulan lagi    
                      liat aja.

Travel book : Iya deeh iya. Tapi kenapa ya dia gak pernah main sama kita? Gak seantusias dulu.

Kamus         : Bener banget. Kecewa sekali sama dia. Mungkin dia gak mau lagi ke Italia.


Italia, Italia, Italia. Sebuah nama, yang kalau disebut bikin gue jadi deg-degan. Ibarat dipanggil. Percakapan di atas adalah percakapan dua buku, yang mewakili beberapa buku lain mengenai Italia yang gue punya. Gue suka Italia. Gue pengen ke sana. Sayangnya gue lupa buat belajar bahasanya. Terlalu sibuk sama hidup yang kata orang sih kaya tai, kadang-kadang. Terlalu melankolis kaya kerupuk kena air; melempem. Membuat gue merasa kaya manusia pada umumnya. Manusia-manusia yang akan mati tanpa satu pun mimpi yang kecapai. Lebih bermanfaat jadi pispot nampungin tai-tai orang. Malesnya gue ini bisa gak ya disembuhin? Jadi, mulai sekarang harus mulai latihan lagi buat belajar bahasa Italia. Niat gue adalah sebelum berumur 24, gue udah harus ada di sana.

Italia, Italia, Italia!

Sei pazzo?

21 September 2013

Daily Post 12 : Benda (Alm.)

Ada banyak hal yang gue benci dalam hidup, tapi gak berdaya buat nyingkirin atau berlari dari hal itu. Misalnya : benda-benda yang gedenya gak terlalu gede.

Silakan pinjam tas gue, dan lihatlah benda-benda yang ada di sana; buku tulis kuliah, buku buat corat-coret atau gambar, dompet, ballpoint standard, pensil faber castell 2b, pensil faber castell 4b, pensil faber castell x-b (x = 1-seterusnya), penghapus, pengserut, kunci motor, kunci kostan, kunci gerbang menuju kostan, gelang murahan, charger laptop, charger usb, konektor buat ke colokan, konektor dari hp ke colokan, dan blah blah blaaah!

Silakan baca lagi benda-benda di atas...
Gue kasih waktu.

Hitung ada berapa.
Yang punyanya cuma satu; gue.

Satu orang. Tapi bendanya bejibun. Gue, yang teledor, punya banyak benda di tasnya. Silakan bertanya benda apa aja yang pernah hilang dari diri yang ceroboh ini:

1. Hati. YA. Ini bercanda. Ha ha. Ya, ketawa. Dikit juga gak apa-apa.

2. Kunci. GAK. Ini gak bercanda. Gue pernah hilang kunci kosan, lebih dari 3 kali. Itu seinget gue. Gak tau yang gak seinget. Entah kemana tuh barang. Belum lagi kunci spesies lain; kunci motor, kunci lemari, dan kunci hati. Yang terakhir juga bercanda.

3. Dompet. Gue pernah hilang dompet di minggu-minggu awal gue magang di Jakarta. Isinya dua ratus ribu. Dikit? Di zaman gue menulis ini duit dua ratus ribu masih bisa dimanfaatkan untuk membeli batagor sekitar 40x, beli aqua gelas 400 biji, dan beli barang-barang lainnya. Waktu gue SMA gue juga pernah kehilangan dompet, waktu itu juga di Jakarta saat gue keluyuran dari Cirebon menuju Bogor. Entah hilang di kereta atau dimana. Kehilangan dompet berarti juga kehilangan penghuninya; si KTP, si SIM, si kartu member di sana, si kartu member di sini, struk bekas jajan di Indomart, struk parkir bulan lalu di mall itu, KTM, kartu ATM, dan pihak-pihak bersangkutan lainnya.

4. Flashdisk. Dalam hidup gue cuma beli flashdisk sebanyak dua kali. Pertama saat flashdisk masih keren banget, waktu itu gue pede punya 128mb. Hilangnya gak tau, kasusnya gak pernah selesai. Yang kedua, saat gue kuliah. Besarnya 16gb. Lumayan gede buat transfer film dari laptop temen, atau dari laptop gue ke temen. Penyebab hilangnya juga gak diusut tuntas.

5. Jurnal. Buset, ini tulisan di mana gue menulis unek-unek, bla-bla-bla, latian nulis, bla-bla, curhat dikit, curhat banyak, marah-marah, nulis opini tentang hal remeh sampai hal gede, bla-bla-bla. Hilang! Demi tuhan ini ketelodoran yang udah akut. Semoga yang nemuin gak ngerti bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Italia, bahasa Esperanto atau bahasa Turangga. Atau, semoga yang nemuin gak bisa baca sama sekali, terus dibuang, dibakar, hangus. Ah, tapi semoga juga yang nemuin baca di halaman pertama kalau gue kasih mantra disitu bahwa yang nemuin lalu membaca tanpa izin akan dapat karma.

6. Rokok. Kalau gue beli rokok ketengan ini suka ilang. Ralat, ternyata bukan ilang, tapi patah terus gue buang.

7. ...dan benda-benda lainnya yang sampai sekarang hilang di ingatan gue. Gak inget.

Nah jadi itulah beberapa almarhum barang gue. Gak tau sekarang nasibnya gimana. Apa mereka tenang di sana? Apa mereka kangen gue? Yakali kangen, yang ada malah ngomel-ngomel macam ibu-ibu yang ngomel sama anaknya, dan seringkali bikin gue bangun saat lagi tidur.

Gue gak ngerti, gue sakit apaan. Gimana caranya biar gue update firmware yang bisa meminimalisir bugs yang ada di diri gue ini. Gue butuh improvement. Mungkin barang-barangnya harus diiket biar gak ilang. Atau di lem? Terus gue gak bisa make. Terus percuma gue punya barang-barang itu.

Hidup gak bisa simpel apa ya? Di mana saat bangun tidur gue bisa langsung ke kampus tanpa harus naruh kunci kosan di saku depan, naruh dompet, atur buku di tas, atur pulpen, pensil dan blah-blah-blah! Hilang aja semua! Ribet bangat mau ke kampus aja birokrasinya bejibun.

Mungkin gue didesain khusus untuk jadi makhluk hutan. Enaknya gak perlu pake baju, kaus kaki kanan, kaus kaki kiri, celana dalem, boxer, dan celana panjang. Sepatu kanan, sepatu kiri. Bangun tidur gue bisa langsung gelantungan di pohon, teriak-teriak. Kalau minum gak usah nyiapin gelas, jalan ke dispenser, pencet yang biru, dekatkan gelas ke mulut, buka mulut, telan. Siap-siap kencing.

Hah, tapi gue gak akan bisa lari. Apa daya diri ini. Gak punya kuasa apa-apa. Maka dewasa itu mungkin ketika kita bisa mengatur hal-hal kecil di sekitar kita.

16 September 2013

Daily Post 7 : Dreams

When I was in SHS, my physics teacher had call me to his room after I had too long for not going into school. He asked me why, and I explain it to him.

I want to be a writer since I was a child. At that moment I haven't know exactly what kind of writer I really want. I told him that I don't want to learn any subject that have no relation with what I want. I want to learn the world, yes I want learn physic too but not like that. In Indonesia, students have to learn every subject and the government (with teachers) decide are they capable or not for going into the college.

And he said "Sometimes, you have to dream rationally. In the future you have many responsibilites; with your parents, family, and yourself."

I was kind of upset. He didn't understand. I had spend 12 years to get an "A" in every subject I never want. This is my life. I'm the one who choose how I will spend my day, week, month, year or decade. I want to write. I want to be a writer, not a physic teacher, optometrist, nor business man. I just want to be a writer. But I kept in silent, I knew he wouldn't understand so I just look down with my mouth closed.

Now, 3 years after I thinking about it again. Why when we get older, we have more things to be afraid of than when we were children? Yes we didn't have to think how to get money to pay any debts, but it is worth ? I don't want to say that finally I'm agree with what my teacher had said. But now I know why he said that.

In the end, I realise that a writer have to know about everything. How he can write good enough about a man who have a power from galaxies if he didn't learn astronomy, physics, biology and all subject related to it?

The reason why my mind leads me to remember about that moment is when one of my friend says to me "When you will chase your dreams again? You have a big dreams, a big passion, but when you will try to reach it?". Is like a slap into my face, a really hard one. Yeah, why now I'm being so passive in my own life. I do what people want me to do. I'm a sheep, I go to anywhere the other sheeps go. So lack of enthusiast in me. Am I really bruised enough so unconsciously I choose to shut up rather to speak up, what I used to be?

So, Turangga Sukandar Putra. Wake up!

14 September 2013

Daily Post 5 : KILAT!

Beberapa orang bilang kalau ide itu datengnya disaat waktu mepet dengan deadline. Hah. Tapi itu gak berlaku buat gue kali ini. Baru balik ke rumah dengan deadline 10 menit lagi untuk memegang komitmen gue sendiri buat menulis tiap hari, bikin gue sempoyongan sendiri.

Tapi tetep harus nulis. Tentang apapun.

Oke, jadi daripada gak ada ide apa yang mau ditulis, mungkin gue harus menulis tentang apa yang bisa dilakukan dengan waktu 9 menit lagi ini!

1. Bikin Pop Mie. Ya, bikin Pop Mie gak makan waktu lama.
2. Denger lagu Spaceman-nya The Killers. Gak tau kenapa kok ini yang ada di pikiran gue.
3. Ganti celana dan lepas boxer. Hey, who needs more time for that kind of thing?
4. Teriak-teriak. Kayaknya teriak-teriak 7 menittttt gak akan bikin pita suara rusak.
5. Doa. Doanya yang singkat, padat dan jelas aja. Gak diperpanjang pake segukan nangis.
6. Bikin telor rebus setengah mateng. Wih, mantep sih ini.
7. Bikin sandwich? Selama persediaannya udah siap sih oke.
8. Sampoan. Since I have a short hair, I can wash it in second.
9. Makan kulit molen. Buset, gak tau lagi kenapa ini bisa muncul di pikiran.
10. SMS ke mamah minta pulsa. Ini juga gak butuh waktu lama sih.
11. Ngetweet, "KILAT AMAT BOOOOOSSS!"

Oke-oke sebelas cukup. Bisa buat main bola, atau kalau makan sebelas piring bisa bikin gendut, kalau sebelas hari kekurung di kamar sih positif bikin gila. Halah. Oke, ini tulisan ter-riweuh yang pernah dibuat kayaknya. Tapi gue masih bisa bernafas lega karena minimal project ini tetep jalan sampai hari ke lima ini

YEAAAH!

13 September 2013

Believe Me

When we dead the sorrow won't be forever
it won't takes long
grin will painted on every faces suddenly
sky still blue, the ocean still salty
every answered questions stay hung
don't deny so it will be better

10 September 2013

Copywriter



Udah sewindu kayaknya gak nulis di blog, sampe lupa ninggalin blog ini dalam keadaan gak beres. Ah tapi ya nanti aja lah.

Bulan Juni sampai September kemarin, di mana saat-saat itu sebenarnya bisa digunakan untuk traveling ke sana-sini sambil nyantai sampai dekil, gue magang. Klise, umumnya orang setuju kalau apa yang kita impikan pasti akan jadi kenyataan. Ini juga yang akhirnya kesampaian.

Tempat ini emang apa yang gue impikan sejak tahun-tahun awal perkuliahan buat jadi tempat magang. 
Paul Coelhe bilang, “When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.” dengan bagaimana pun caranya, gue berhasil untung magang di tempat yang emang gue pengen.

As a copywriter!

Sekalipun gue dari kecil emang suka nulis, tetep aja banyak hal yang gue masih ngos-ngosan untuk mempelajari copywriting ini. Gak sesimpel dengan yang dibayangin, tapi lebih asyik dari yang dibayangin. Apalagi kuliah di DKV yang banyak berkutat dengan visual sering kebawa-bawa saat membuat radio script. Bener-bener belajar dari nol, atau bahkan dari minus 100 tentang copywriting, advertising dll.

The best part of it adalah adanya orang-orang yang ngasih kritik dan saran tentang copywriting gue sendiri. Dimulai dari "Bahasa lu tua banget!", "Ini sih visual banget." sampai "Ini bukan Turangga yang gue harapkan." jatuh bangunnya kerasa di sini. Tapi ini yang emang gue harapkan sebelum masa magang, di mana ada orang yang emang ahlinya di bidang ini dan memberikan saran ke gue tentang copywriting gue ini. Karena di bangku perkuliahan, masih jarang ditemukan orang-orang yang memiliki minat di copywriting ini.

Gue gak akan membeberkan secara jelas tugasnya copywriter ini ngapain aja. Itu bisa didapat dari internet. Apalagi ilmu copywriting gue, yang tadinya minus sekarang mungkin baru mencapai titik nol. Harus belajar lagi.

Kalau mau disimpulkan dalam satu kalimat, apa yang gue pelajari dari magang di Lowe Indonesia ini adalah "Bersikap dan berpikiran terbuka untuk tahu lebih banyak tentang semua hal". Dengan tahu, kita bisa menghargai, entah itu menghargai ide yang tiba-tiba nongol di malam hari saat kita mau tidur dengan menulisnya, menghargai dan mendengarkan saran-saran AE (Account Executive), klien, dan semuanya. Dengan berpikiran terbuka, kita gak malu-malu untuk mendengar semua genre musik yang enggak kita banget misalnya dangdut, rock, sampai Arab disko yang bisa jadi inspirasi. Hal ini bukan cuma buat copywriter, art director atau orang-orang kreatif, tapi juga buat semua orang.

Lalu, selain copywriting, gue juga sadar bahwa mempelajari ilmu Psikologi itu penting. Hubungannya dengan advertising, dan copywriting adalah dengan mempelajari psikologi gue bisa tahu bagaimana caranya berbicara dengan Target Audiens, atau target orang untuk produk yang gue jualkan itu. Banyak banget yang harus dipelajarin, semoga gak malas.

Laluuu the best of the best nya adalah, akhirnya gue bisa membayangkan diri gue di masa depan nanti. Kalau dulu masih bingung kalau udah lulus kuliah gue bakalan jadi apaan, sekarang udah jelas bahwa di masa depan nanti, gue ingin menjadi seorang COPYWRITER.




21 July 2013

Parsial


Lucu ya jika ingin menulis tapi tak tahu apa yang ingin ditulis. Seperti ingin berbicara tapi tak tahu apa yang ingin diutarakan. Ada yang menggunung dari hati atau pikiran dan tak mungkin lebih lama ditampung. Ah, bahkan tak tahu mana yang dari hati dan mana yang dari pikiran. Kok berani tiba-tiba menumpuk.

Lalu apa mereka sebetulnya bekerja sendiri-sendiri? Lalu siapa diri ini sendiri jika hati dan pikirannya bekerja terpisah. Bukan pertanyaan sebenarnya, maka tak perlu pakai tanda tanya.

Katanya waktu akan menjawab semua. Lalu apa itu waktu, atau siapa? Yang punya keterampilan untuk menjawab semua tanya dan bahkan katanya luka. Karena yang diketahui hanya suara jarum jam yang berkutik konstan.

Kembali kepada tujuan awal, mengapa menulis jika tak tahu apa maknanya? Lalu siapa itu yang berpangkat cukup tinggi untuk lancang bertanya makna. Lagi, bukan pertanyaan karena pakai titik bukan tanda tanya.

Jadi ya biarkan saja apa adanya, katanya. Tapi tolong jangan halangi jemari-jemari yang ingin mengutarakan apa yang ada di hati dan pikiran sekalipun terpisah-pisah. Ada larangan?

08 June 2013

Diobok

Hidup bisa berubah setelah bangun tidur. Setelah menunggu sampai mengorbankan hal-hal yang sangat penting seperti liburan bareng teman, waktu, hingga duit yang dikuras untuk bolak-balik luar kota akhirnya terbalaskan. Akhirnya malah seneng. Gue diterima untuk Kerja Profesi di suatu agensi periklanan di Jakarta.

Mulainya hari Senin besok, 2 hari lagi. Dan gue yang saat itu lagi sarapan bareng temen gue, masih masang muka kucel baru bangun tidur cuma cengengesan baca email di handphone.

Terus diem.

Lucu ya, emosi jadi diobok-obok. Kemarin gundah gulana, sekejap bahagia, lalu kembali gundah gulana. Bingung mau bawa apa aja yang harus dibawa. Yang esensial ya laptop, baju, celana, hingga selempak. Beberapa buku. Sabun, samphoo bisa beli di sana. Selimut! biarpun di sana dikate panas, tetep aja bakalan susah tidur kalau gak ada itu barang.

Halah, sok-sokan mau bawa apaan. Belum juga dapet tempat buat di sana. Sepasukan teman lagi nyari di sana. Gue minta tolong dengan koneksi yang gue punya, dari temen sekolah, temen nyokap, sampe googling dengan macam-macam keyword "Kos Kebayoran Baru", lalu "Kos Blok M", dan kalau udah bete bisa jadi "Kos Deket Blok M Gak Bohong Fasilitas Cukup Harga Gak Bikin Bego", hasilnya gak seberapa. Ada yang disms panjang-panjang jawabannya judes, sumpahin besok pagi bokernya gergaji.

Waktunya mepet. Harusnya girang sampe lompat-lompat terus ketawa-ketiwi sampe mencret. Pengalaman baru coy. Ketemu orang baru. Stress baru. Tapi ya banyak yang harus dipikirkan, diselesaikan, diini-itukan.

Selamat tinggal jangan? Gak usah. Ntar juga lupa.

06 June 2013

The Art of Hoping Nothing

Banyak hal yang harusnya diceritakan. Tapi tak sempat karena mengurus ini-itu. Banyak yang pergi, banyak pula yang masih berdiam diri. Ke sana, ke sini. Misalnya di sini, masih berharap untuk mendapatkan kepastian dari satu agensi yang dia inginkan dari dulu. Tapi, mungkin jangan terlalu berharap sekalipun optimis. Jadilah realismis, realistis tapi optimis. Maka bisa jadi harusnya membiarkan harapan-harapan itu ditaruh dulu karena butuh istirahat untuk tidur. Cuci kaki, muka hingga sikat gigi. Ambil buku tebal dari rak untuk pengantar tidur. Ketik sedikit cerita untuk di jurnal, atau di dunia maya. Tinggal tunggu kabar apakah memenuhi kualifikasi atau ternyata tidak. Yeah, sometimes, the more things you want, the heavier your life gonna be. So I let everything happens to me.

28 May 2013

Kau

ketika ketikan hanya mampu menghasilkan tulisan
ketika berlisan tak akan ada yang didengarkan
karena aku hanya ingin berhenti menghiraukan
dengan menyampaikan "Selamat Tinggal" yang berkesan
atau baiknya kutinggalkan, kubiarkan?

24 May 2013

Selingkuh

Di belantika kehidupan kita masing-masing itu pasti ngebawa kita ketemu sama orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Misalnya jadi kenal orang-orang yang latar belakangnya pedagang. Sebut aja mamang nasi padang, mamang tukang bubur, teteh penjual nasi kuning, atau mamang gorengan.

Gue suka jajan makanan kaki lima. Beberapa bahkan jadi langganan karena terbukti punya diferensiasi dengan produk sejenis lainnya. Misalnya Cap Cay Mickey Mouse, yang capcaynya lebih manis dibandingkan capcay-capcay di pedagang lainnya. Atau nasi kuning Teteh Bohay, yang sering dikerubungi bapak-bapak gatel yang istrinya masih nyenyak di kasur.

Tapi kadang ini juga bisa bikin jadi gampang gak enak hati.

Namanya manusia, pasti ada momen di mana dia dilanda kebosanan. Kalau gak ada inovasi dari makanan-makanan atau jajanan tersebut, ya pasti lidah ini udah capek lagi-lagi dijejalin asupan yang sama.

Gue sendiri pernah tertangkap basah makan bubur di tempat lain, oleh mamang bubur yang dulu jadi langganan. Waktu itu lagi subuh-subuh, habis begadang ngerjain tugas. Karena kepagian, gue gak menemui mamang bubur langganan sedang bertengger di tempat biasanya. Akhirnya ya gue pindah ke bubur lain. Baru beberapa suap gue makan bubur di tempat baru, tiba-tiba nongol mamang bubur langganan. Muka dia antara asem, kecut, sama pait. Mungkin hatinya rapuh banget, doi ngedorong gerobak siap-siap berdagang tapi pandangan matanya sedih banget, kaya di acara-acara tv yang nampilin penderitaan hidup orang.

Saat itu, gue ngerasa kaya selingkuh. Tapi bubur ayam yang baru ini rasanya lebih enak, dengan harga yang sama. Bukannya gak mau setia, tapi ya mau gimana? Doi, si mamang bubur lama gak punya inovasi lain di buburnya. Gue gak mau menyuapi diri ini dengan makanan yang keluar dari norma-norma yang berlaku di kerongkongan. Tapi gue juga gak mau jadi oportunis yang milih bubur ayam yang baru gara-gara lebih enak dan kerupuknya lebih banyak.

Beda cerita lagi dengan pemilik nasi padang di deket kosan. Dulu gue sering makan di sana karena sambel ijonya enak banget bukan main. Rasanya makan pake apapun bakalan enak kalau ditambah sambel racikan istrinya ini. Tapi ya perut ini pasti panas kalau makan yang pedas-pedas mulu saban hari. Akhirnya gue pun pernah dipandang sinis ketika ketahuan mau makan di tempat lain, yang di mana gue harus melewati rumah makan nasi padangnya dulu. Kayaknya kalau gue saat itu jail bolak-balik buat manasin doi, itu piring-piring yang ditata rapih dengan fondasi yang kokoh bakalan ambruk dihantam tangan doi kayaknya.

Suatu saat, gue pun kenalan dengan mamang gorengan. Waktu itu lagi tengah malam lagi ngerjain tugas, dan akhirnya ngopi bareng bapak-bapak tetangga, yang ngenalin gue sama mamang gorengan tersebut. Akhirnya beberapa hari kemudian gue beli gorengan di tempat dia. Dan gue dikasih bonus satu biji. Cuma satu biji sih, tapi itu jadi kaya pertanda kalau kita resmi temenan. Beruntunglah mamang gorengan tersebut gak punya akun Facebook atau Twitter, yang kalau kenalan cuma bisa ngasih "Salam kenal. Thx for the app :)" atau "Salam kenal. Follback ya! :)".

Tapi ini jadi bikin gue bingung lagi. Gimana kalau suatu saat nanti ada gorengan yang lebih enak?

P.S Gue masih setia dengan Teteh Bohay penjual nasi kuning, bukan karena ke-bohay-annya, tapi karena nasi kuningnya masih enak sampai sekarang.

P.S.S Penjual capcay Mickey Mouse dagangnya mood-mood-an, jadi kalau gue selingkuh dengan pedagang yang lainpun ada alasan yang gue bisa utarakan kalau tertangkap basah.

21 May 2013

Pencerita yang Dibutuhkan Alam Semesta

Mungkin ini curhat, atau apapun. Karena kata-kata ini tak perlu dibaca untuk yang tak berminat. Tapi yang selalu jadi pertanyaan dan selalu ada di pikiran adalah bagaimana menghapus rasa rindu dengan seseorang yang sudah tiada.

Misalnya dengan satu orang yang lihai benar bercerita, bikin badan yang gak mau diam ini jadi semacam terbenam dalam duduk berpose sila, bikin mulut yang katanya banyak ngomel ini jadi mingkem, bikin pikiran yang lari ke mana-mana ini jadi diem, yaitu beliau yang berbau balsam. Waktu kecil memang sangat tidak suka dengan bau balsam, rasanya seperti ada rasa-rasa tidak sedap di lidah. Beliau adalah satu-satunya manusia yang bau balsamnya bisa ditoleransi hidung.

Beliau sering bercerita. Kamarnya yang berada di lantai dua membuat kaki-kaki yang dulu kecil ini tak lelah untuk melompati tangga. Kamar beliau, adalah akuarium dengan ikan-ikan pari, ikan paus, dan beberapa penyelam yang asyik menyelam di sana. Lengkap dengan suara air yang menjadi latar ketika mulut beliau dengan lucunya mengeluarkan kata-kata. Matanya berpindah-pindah, kadang ke ujung ruangan, kadang ke samping, atau jika kau tak siap-siap, dapat menujam kedua bola matamu.

Mungkin karena masih kecil dan tak mengerti apa yang terjadi, mata ini dulu tak mengeluarkan air mata setetes pun. Dulu masih belum mengerti bahwa ketika seseorang berhenti bernafas, lalu dijemput mobil menuju pemakaman, artinya adalah bahwa dia tidak akan ada lagi untuk bercerita, baik esok, setahun berikutnya, atau bahkan ketika mendapatkan predikat juara di perlombaan-perlombaan.

Beliau juga seringkali mengajak jalan-jalan. Benar-benar jalan, lalu pulangnya memberikan permen untuk dinikmati sambil jalan. Waktu itu masih kecil, jadi yang masih diingat adalah pinggulnya, bukan bagaimana wajahnya ketika berjalan. Atau, sandalnya yang merupakan spesies sandal jepit yang dengan mudah dapat ditemukan di warung-warung terdekat. Beliau tidak pernah malu berjalan kaki dengan pakaian sederhana, beliau tidak mau menyetir mobil karena hanya akan mempercepat menuju tujuan. Padahal, banyak yang bisa ia temui di jalan.

Beliau adalah yang membuat jemari ini doyan menulis, merangkai kata-kata untuk mengubah imajinasi ini dalam secarik, dan setumpuk kertas. Atau sekarang, dijital. Karena dulu tak pernah ada yang memberikan buku cerita, maka harus membuat sendiri dengan cerita-cerita yang ada di kepala.

Beliau juga selalu mendengarkan, ketika yang lain mengacuhkan. Ingat benar bagaimana mendengar segala keluhan, dan cerita-cerita yang menurut orang lain hanya omongan. Beliau memeluk tubuh kecil yang ringkih tapi doyan benar bergerak lalu terjatuh baik dikejar, atau mengejar anjing tetangga yang nakal ini dengan erat tapi tak membuat pengap.

Dulu sempat kepikiran, jangan-jangan beliau pergi diculik oleh makhluk-makhluk yang digambarkan oleh tangan ini di tembok-tembok kamarnya. Beliau tidak pernah marah ketika cucunya menggambar di tembok, beliau menghargai kreatifitas atau, kenakalan. Ada Si Gombel, hantu Wewe Gombel yang selalu bikin ngos-ngosan karena berlari pulang saat maghrib menjelang. Ada Mang Sana, warung langganan untuk membeli jajanan. Ada robot-robot yang tak sempat diberi nama, atau yang lebih abstrak: latihan-latihan tanda tangan karena dulu beranggapan memiliki tanda tangan berarti memenuhi kualifikasi untuk menjadi dewasa.

Tidak ada yang pernah memberikan jawaban ketika pikiran-pikiran ini bertanya, lalu disalurkan ke pita suara untuk menjadi kata-kata. Semua diam ketika ditanya beliau di mana. Otak ini tak pernah diberikan suapan yang ia inginkan. Ia menungu beliau untuk sekedar bercerita, ia haus akan cerita-cerita seperti biasa.

Beliau adalah orang yang paling dicinta,
beliau adalah sang pencerita yang percaya bahwa setiap cucunya dapat menaklukan semesta;
Kakek, yang telah mengisi pikiran ini dengan alam semesta kata-kata.

29 April 2013

Becek Gak Ada Lotek

Selama dua tahun jadi mahasiswa, gue tinggal di daerah yang sama dari awalnya menjadi penghuni kos-kosan sampai akhirnya sekarang penghuni kontrakan. Gue gak mau ngomongin tentang pengalaman itu, tapi lebih tepatnya gue mau bertanya atas apa yang telah terjadi dalam belantika kehidupan gue yang dramatis, tapi dalam bentuk drama yang gak sedramatis film atau sinetron.

Kenapa? Tolong jawab, kalau gak bisa gak usah mangap. Gue selalu mencoba-coba di mana makanan yang enak di sekitaran daerah gue tinggal ini. Buat sarapan, buat makan siang, sampai buat makan malam. Gue selalu punya andalan tempat-tempat, atau mamang/mba penjual mana yang masakannya enak banget sedunia. Tapi....

Berkali-kali mereka malah tutup atau bangkrut atau alasan apapun yang gak jelas. Yang pasti gak jualan lagi. Gue suka bingung kemana mereka ini, apakah dijemput alien, gak sengaja masuk ke dunia Narnia terus gak balik-balik, diterima jadi agen CIA, dideportasi ke Arab atau alasan apapun yang sebaiknya gak dipikirin kalau gak mau muncul uban di kepala.

Misalnya ada penjual lotek kesukaan gue yang udah jadi lovemark-nya gue sebut saja Lotek Jupe. Sekalipun tempatnya berantakan karena deket banget sama pemakaman, juga becek dan asap ngebul di mana-mana, gue tetep rajin buat menyantap lotek di sana. Gue juga sering ngobrol sama si teteh penjualnya, doi bahkan mempercayakan gue untuk diceritakan tentang suaminya yang menurutnya gak ideal, bagaimana kecantikan dia dulu, sampai sebelnya sama salah satu pemeran antagonis di sinetron. Lalu tiba-tiba dia gak jualan lagi, gak tau kemana. Gue gak pernah nanya dia punya akun Facebook, Twitter, Line, atau mungkin blog buat mempertahankan koneksi hubungan antara konsumen dan produsen.

Gue ditinggalkan tanpa alasan yang jelas. Membuat berjuta-juta pertanyaan terngiang-ngiang di pikiran gue. Akhirnya gue harus belajar lagi melepaskan sekalipun tanpa jawaban. Karena mungkin beberapa pertanyaan dibuat cuma buat mikir gak perlu pake jawaban karena jawabannya sendiri adalah pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Yang pasti sekarang daerah di mana Lotek Jupe pernah mengayomi para perut konsumennya yang kelaparan. Tempat itu sekarang cumalah tempat yang penuh dengan alasan untuk tidak menuju ke sana sekalipun sekedar menjenguk. Karena daerah itu kini hanya daerah yang becek entah karena hujan, atau karena para penikmat loteknya yang menangis setiap kali kesana namun tak ada penjualnya.

Jadi Gelandangan Pulang Liburan

Liburan mengasyikkan di akhir pekan bareng teman-teman. Pulang naik travel dari malam sampai pagi. Asyik bisa tidur doang di mobil! Sampe pagi pas badan pegel-pegel,  yang diduga kumat ketika tahu bahwa liburan telah usai. Sebentar,

pengen bahagia dulu membayangkan apa aja yang akan dilakukan setelah masuk kamar kosan; joget-jogetan, makanin Chitato 3 bungkus, lompat-lompat, dan lain-lain. Eh, kan pegel? Ya udah tidur aja deh. Ngantuk juga deh, pengen merem terus seger pas melek.

Akhirnya sampai juga.

Ngambil tas yang berat terus pamitan sama teman-teman, pake gaya artis yang keluar dari mobil di Wall of Fame. Bedanya gak ada fotografer yang sudi ngambilin gambar orang baru bangun tidur dengan muka yang masih kaya kardus basah. Mobilnya pergi, dadah. Kaki dilangkahkan menuju kosan dengan senyum kelegaan mau istirahat.

Lupa kunci kosan ketinggalan pas liburan.

Gak bisa tiduran.

Jadi gelandangan.