Pages

Showing posts with label Prosa. Show all posts
Showing posts with label Prosa. Show all posts

30 September 2013

Daily Post 21 : Biarkan

Kertas putih memiliki pertanyaan,
didiamkan dibawah kabel-kabel menjuntai.
Buku-buku selesai dibaca,
dibiarkan menginap di dalam kardus, bawah meja, dan yang beruntung, dibiarkan memamerkan diri di rak buku.
Dua dari tiga batang rokok selesai dihisap, asapnya tak ada kabar pergi ke mana.
Air putih puas terkurung dalam botol, tidak mendidih tak pula dingin.
Mata sayu menatapi layar, jari-jemari menjadi wakil dari pikirian.
YA, saya sedang menulis.

20 September 2013

Daily Post 11 : Puisi Setrikaan Kepada Semangkuk Mie Ayam

Apa yang semestinya dilakukan oleh sebuah setrika yang jatuh cinta pada semangkuk mie ayam? Akankah ia berpuisi, memetik gitar atau justru berdiam diri? Emang absurd. Tapi karena gue lagi-lagi bingung mau nulis apaan, akhirnya mengambil "random ideas" dan terpilihlah "Setrika pacaran dengan mie ayam". Gue akan membahas apa itu "random ideas" yang gue maksud di post selanjutnya.

Puisi Setrikaan Kepada Semangkuk Mie Ayam

Bagaimana kabar kuahmu yang berdaging?
kudengar suwir ayam tak lagi lunak,
bersama sambal yang tak jua diaduk
hampir membatu.

Bagaimana kabar mie mu yang mulai menyatu?
Berikan pesanku,
janganlah menempel pada badanku nanti.

Temanku si kemeja pernah berucap,
dunia berjalan dengan cara yang lucu.
Seperti ketakberdayaanku tak bisa menghangatkan
kau, yang membeku di mangkuk yang dibebani sendok, garpuh atau sumpit.
Menunggu diganti dengan hidangan yang baru.

15 September 2013

Daily Post 6 : Release

Let me in your lungs so I will relieve the anxiety from your coffee,
blow me so I will dancing through the air you breathe
Since I'm not the one who makes your heart beats faster,
leave me in the ashes so I can take a rest.

13 September 2013

Believe Me

When we dead the sorrow won't be forever
it won't takes long
grin will painted on every faces suddenly
sky still blue, the ocean still salty
every answered questions stay hung
don't deny so it will be better

10 September 2013

Daily Post 1 : Rindu

Karena males harus dilawan, jadilah gue menelurkan ini : Daily Post! Bukan sesuatu yang baru. Banyak orang yang udah dari dulu mulai; ada yang sukses, ada yang kembali males. Targetnya sih gak muluk-muluk tapi ga terlalu enteng juga: Sebulan. Atau lebih tepatnya 30, cukup segitu gak kurang gak lebih. Kelanjutannya gimana nanti, gue gak mau muluk-muluk.

Mekanismenya gue atur sendiri. Misalnya hari pertama ini gue gabungin dua hal yang gue pilih secara random dan gue harus bikin tulisan dari situ. Seberapa pendek atau panjangnya. Dan dua hal yang beruntung itu adalah : Telepon dan Truk. Karena kebetulan pas ide ini terbesit gue ngeliat telepon, lalu ngeliat keluar dan ada truk.

Bacot. Mulai dah!

Istri saya emang gak secantik Asmirandah yang di poster temen-temen saya simpen. Yang lain pada nyimpen emang buat ngilangin "anu", tapi saya gak mau. Saya cuma kepengen "anu" sama istri saya yang lebih cantik dari Asmirandah, atau neng Idah, neng Chacha, terus neng Pinki yang sering ngebor kalau lagi manggung. Cuma istri saya yang paling seksi.

Bolak-balik Jakarta-Tegal bikin saya jarang ketemu istri. Kita emang cuma hidup berdua karena nda' bisa ngasilin anak. Dulu, bapaknya istri saya minta saya cerai aja biar istri saya bisa punya keturunan. Saya juga gak bisa nolak sebenernya, lah wong saya cinta moso iya saya biarin dia menderita gara-gara saya? Tapi istri saya malah maksa saya buat gak ceraiin saya. Dia ndak mau punya suami selain saya katanya. Dia sampe nangis-nangis jelasin ke bapak-ibunya kalau dia cuma cinta sama saya. Untungnya bapak-ibunya ngertiin saya. Biar Lastri, adiknya istri saya aja yang nanti bayar utang keturunan buat mereka.

Saya harus kuat. Harusnya dua bulan lagi uang saya bakalan cukup buat beli henpon, langsung beli dua. Biar gak melulu minjem telepon atau henpon temen buat nelpon ke rumah bapaknya istri saya. Itu juga harus nunggu istri saya buat jalan dulu ke rumah bapaknya. Kalau istri saya masih jualan jamu, ya gak bisa nelpon. Kangennya gak bakalan sembuh-sembuh.

Lah ya tapi ya namanya nasib ya mau gimana. Dua bulan lagi saya harus tetep pinjem telepon buat nelpon ke istri saya. Tadi duit saya gak tau kemana, gak tau diambil orang atau diambil siapa. Sejujurnya curiga sama Pak Dede yang tadi gak tau ngapain ada di truk saya pas baru balik kencing, tapi ya gak baik nuduh orang yang enggak-enggak. Ya wis lah, mau gimana lagi. Mau mewek juga nda bisa, nanti telat ngirimnya. Besok saya bilang supaya istri saya gak usah dulu milih-milih nomer hape buat berdua.

Sekarang sih, pake poster Asmirandah dulu aja lah ya terpaksa.

04 April 2013

Surat Terbuka Buat Ngat

Ngat, lu kemana aja? Udah lama amat kaga balik-balik. Dengerin nih Ngat, lu buruan balik dari perantauan lu yang entah sekarang membawa lu ke mana; mungkin ke tong sampah, terus diembat sama truk dinas kebersihan, dijadiin kompos atau malah dianggurin di pinggir sungai gara-gara kaga tau lu sampah jenis apaan.

Tai.

Di sini empunya lu lagi butuhin lu sekarang banget. Sekarang, bukan semester depan. Urgent, se-urgent nahan boker sewindu gara-gara gak nemuin air buat cebok atau sekedar tisu atau minimal kertas koran buat menggosok sisa "itu" dari lubang pantat.

Bukan idealis. Bukan se-idealis orang yang nahan boker gara-gara cuma mau boker di pispot jongkok di negeri orang yang udah gak punya benda macam begituan. Ini masalah eksistensi biar si gue bisa nyelonong lagi menghadapi kehidupan ini yang katanya sepedes gehu pedes yang dimakan pake cabe rawit dua baskom. Gak pake minum.

Ketawa lu Ngat, buruan balik. Masalahnya, gak ada akun jejaring sosial macam Twitter, Facebook atau akun Line yang bisa membuat gue menjangkau keberadaan lu itu. Mau ngirim surat atau sekedar kartu pos, tapi cuma berakhir ditanya sama penjaga : "Alamatnya di mana?" akhirnya ditolak karena gak memenuhi kriteria untuk mengirim sebuah pesan.

Masalah selanjutnya adalah gak tau lu tersemat di benda jenis apaan sekarang. Gak ada lu yang jadi bonus dari chiki-chiki atau permen lollipop yang dibeli di warung pinggir jalan. Gak ada juga di secangkir kopi legendaris di kota ini, atau di tempat nongkrong paling nguras dompet di daerah sekitar sini.

Buruan balik, jangan sampai bikin darah tinggi. Hari ini udah nurun 5 kilo, berani-beraninya kaga balik-balik sampe bikin berat badan turun padahal sering jajan makanan berlemak jenuh macam gorengan yang satuannya gope.

Jangan kurang ajar sampai maksa gue buat jadi personil boyband yang modal tampang doang tapi otak nihil dengan suara editan dan modal goyang seadanya di atas panggung. Atau buat gue jadi pemain sinetron yang digandrungi emak-emak sambil nemenin anaknya yang pura-pura belajar. Cuma biar ketemu elu.

Kalau gak punya ongkos tinggal telepon atau cukup kirim email yang beralamat (nama lengkap gue)@gmail.com dan bilang berapa duit yang lu butuh buat balik, biar nanti ditransfer. Bukan karena kebanyakan duit, tapi lu masih termasuk dalam prioritas ke mana duit bulanan gue mau dialokasikan.

Cukup, karena gue tau lu bukan jenis makhluk yang doyan baca teks panjang-panjang. Percuma juga kalau lu lagi asyik-asyiknya minggat, karena pesan sebenarnya cuma satu kalimat :

"Buruan balik, Semangat."

05 March 2013

Ia Sedang Sibuk

Tubuhnya ceking, dan jemarinya terlampau kurus untuk mengalahi batang rokoknya yang lebih panjang dan tebal. Ia hisap batang rokok itu dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya dengan fasih seolah sudah biasa.

Padahal ia baru dapat sebatang rokok itu dari seorang pelanggan.

Ketika itu ia sedang sibuk membalikkan meja suruhan majikannya yang gendut dan galak bukan main. Sore itu tiba-tiba hujan, tempat makan itu kecipratan lalu merisaukan para tamu yang sedang asyik nongkrong. Padahal pikirannya sedang dihujani beragam keluhan tentang masa kecilnya yang harus diisi dengan mencari uang.

Para tamu itu, adalah mahasiswa-mahasiswi yang Tuhan beri kecukupan untuk berkuliah. Tempat makan itu adalah tempat di mana mereka menenangkan perut-perut gelisah. Ada fasilitas WiFi bagi mereka yang ingin berselancar di dunia maya baik untuk membantu membabat tugas-tugas, atau hanya untuk menghibur mereka selepas dari ruang kelas yang bagi mereka cukup menyiksa.

Mereka tidak mengerti. Tidak ada matakuliah yang khusus mempelajari tentang bagaimana isi hati seorang anak kurus ceking yang mencari upah di tempat makan para mahasiswa-mahasiswi intelektual. Mereka, juga sibuk bercengkrama lewat teman mereka di depan, dan teman mereka di dunia maya. Tuhan tidak berhak memurkai mereka. Ia tak mengajar di universitas manapun karena terlampau gengsi, itu jelas kesalahanNya.

Tuhan juga tidak berhak mengazab para pengajar karena ia tak pernah berdiskusi ketika mereka membahas kurikulum. Ia bersembunyi, berdalih bahwa pikiran-pikirannya telah ia anak-pinakkan kepada hamba-hambanya yang tak pernah diberi konfirmasi soal kiriman.

Maaf, anak itu tidak peduli tentang semua di atas. Ia hisap batang rokok itu membiarkan bibirnya menghitam. "Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin." Hanyalah omong kosong baginya. Tidak merokok tidak bisa membuatnya mendapatkan apa yang ia inginkan.

Pelanggan itu, memintanya duduk dan memberinya sebatang rokok. Ia dan teman-temannya bertanya mengapa ia bekerja bukannya bersekolah. Ah, pertanyaan konyol itu keluar dari mulut seorang mahasiswa yang pastinya sudah tau mengapa. Ia tak punya duit. Di kantung celana panjangnya yang paling bagus dan sengaja ia pilih khusus untuk hari pertama kerjanya itu, hanya ada lima ribu rupiah untuk ongkos pulang.

Hujan turun semakin deras, para mahasiswa-mahasiswi tak mau kalah lalu berbicara keras-keras.

Ia ingin berlari sendiri kala itu.
Ia ingin berlari sekecang-kencangnya dan menangis sendiri.
Ia ingin cengeng, itu adalah haknya karena telah melalui kehidupannya yang tinggi dan terjal.
Ia ingin menjerit dan berteriak;

"Teman-teman, aku ingin bermain!"

Sementara itu, di tempat yang berbeda-beda, teman-temannya, sedang sibuk melepas seragam sekolah mereka untuk dicuci, sambil bertanya dalam hati; "Di mana temanku yang tiba-tiba putus sekolah itu?"

Ia sedang sibuk menghisap batang rokok pemberian seorang pelanggan, gratis. Tanpa embel-embel biaya tambahan ini itu seperti sekolah.


Bandung,
4 Maret 2013.
Di sebuah tempat makan.

17 February 2013

KOPI!

"Buruan!"

Fyuh…akhirnya sampai juga.

Icip.

Pedas mbak!

Butuh usaha ekstra untuk menyantap semua. Matanya lalu menyelonong ke atas meja lalu ke layar.

*******

paswordnya salah mba!

'KAPITAL SEMUA MAS" jawabnya lalu merebut nampan dari atas meja.

Kopi hitam, nasi goreng merapi, lampu kuning.
Ia memilih duduk di pojok karena di situ ia merasa aman.

Zoom out. Terlihat orang-orang lain juga sendiri.

Fyuuh…keringatnya menetes. Minimal tidak sendirian menjadi sendiri.

Diangkatnya cangkir kopi. Idenya tumpah ruah ke atas meja.
Semua orang menulis, dengan atau tanpa secangkir kopi.

Akhirnya sempurna juga.


Bandung,
di sebuah kafe di mana semua orang juga sendiri.
Minggu, 17 Februari 2013.

13 February 2013

Menulis adalah Pulang

Tulisan di bawah ini sebenarnya dibuat untuk salah satu event untuk penulis di sebuah group Facebook. Yang secara tak sengaja saya temukan setelah beberapa lama berjuang untuk tertidur tapi tak jua berhasil, alhasil sayapun terjaga dan akhirnya memutuskan untuk ikut serta. Ternyata,….setelah tulisan telah dibuat, event ini sudah tutup beberapa hari yang lalu.

Ini adalah hasilnya, sebuah tulisan dimana saya harus menggambarkan apa itu keajaiban dunia tulis-menulis dengan maksimal satu halaman berukuran A4. Pelajaran kali ini, walaupun telat mengumpulkan kadang kita harus ngambil hikmahnya : paling enggak kita telah mencoba sesuatu.

Saya suka menulis sejak tubuh ini masih mini. Ketika itu cita-cita saya bejibun, mulai dari ingin menjadi power ranger, astronot, aktor, presiden, pembuat game dan lain-lain. Yang masing-masing memiliki durasinya masing-masing, sebulan ingin jadi astronot, seminggu ingin jadi aktor atau bahkan beberapa jam ketika ingin menjadi personil power rangers. Tapi saya menemukan kenyamanan saat pelajaran di sekolah meminta murid-muridnya menulis sebuah karangan. Wah saya bisa kehilangan kendali dan bercerita panjang lebar lewat kata-kata, yang kalau tak diberhentikan bisa meludeskan seluruh kertas dan pensil yang tersedia.

Saya suka sekali bercerita lewat kata-kata. Dengan menulis saya bisa menyelam menjadi siapapun yang saya mau, melakukan ini-itu lewat alunan kata-kata dalam cerita yang saya rancang. Bisa menjadi sutradara yang menyuruh ini melakukan ini atau itu, mengatur bagaimana sebuah konflik berjalan dan bagaimana semuanya akan berakhir. Saya mengatur semuanya, seolah-olah saya ini adalah Tuhan. Menulis adalah suatu cara untuk menjadi siapapun yang kita pinta.

Dengan menulis saya dapat menceritakan pengalaman saya lewat kata-kata. Semua pengalaman yang dialami lewat beragam panca indra, harus disarikan dan diolah menjadi kata-kata. Akhirnya saya harus mengembalikan semua itu kepada pembaca yang memiliki imajinasi masing-masing ketika membaca tulisan. Wah seru sekali, ketika satu pengalaman saya dapat berbentuk beraneka varian lewat imajinasi mereka.

Belum lagi dengan menulis saya dapat mengeluarkan seluruh isi pikiran yang selalu saya tampung dan jika didiamkan terus niscaya dapat menggelembung sebesar semesta. Menulis membuat saya dapat menyalurkan semua isi pikiran dalam tulisan saya secara perlahan-lahan, membiarkan otak saya memiliki ruang untuk akhirnya diisi kembali dengan beragam hal-hal yang baru. Menulis sebuah ruang untuk memperbaharui.

Dan ini yang paling penting, dengan menulis saya bisa tahu siapa sebenarnya saya ini. Selama ini banyak sekali manusia yang bertanya-tanya siapakah mereka. Dalam dunia menulis saya bisa tahu siapakah saya dengan membaca kembali seluruh tulisan yang pernah saya cipta. Rasanya seperti pulang ketika mencari jauh-jauh siapakah diri ini hingga akhirnya tersadar bahwa rumah itu ada tak jauh dari tempat selama ini tubuh berpijak : di dalam diri sendiri. Menulis adalah pintu untuk masuk kedalam rumah, yaitu diri ini. Menulis adalah pulang.

Kepada Mereka Yang Bertanya


Dunia itu seru, justru ketika semuanya tak seperti yang kau pinta. Misalnya seperti ini: berbicara, bergestur, bahkan tertawa dan bernafas dengan cara yang baru. Meninggalkan semua yang selama ini dikira cangkang yang melindungi, tapi justru mencekangmu.

Bertemu segala hal yang baru. Berjalan tanpa alas. Jadi pusat perhatian atau jadi latar. Jumpalitan. Tertawa bersama orang yang sama sekali tak kau tahu namanya. Mendengar walaupun tak mengerti mereka bicara tentang apa. Berada di tengah-tengah keluarga baru. Tertawa bersamamu, bukan mentertawaimu. Bermandikan air sumur. Jauh dari “dulu”. Jauh dari mereka yang selama ini menginginkanmu begitu. Menjauh untuk akhirnya kembali suatu saat nanti. Kembali karena kau mau, bukan karena mereka yang mau. Sendiri karena pilihan, bukan dengan mereka yang gemar membuatmu merasa sendiri.

Tak pedulilah nanti bagaimana. Mungkin jadi pedagang asongan, tukang pijat, atau pengamen dengan gitar yang asal digenjreng. Tak tahulah nanti bertemu siapa, mungkin preman pasar, artis papan atas atau tukang servis panci. Tak tahulah nanti di depan bagaimana, mungkin sawah, samudra atau tembok besar menghadang.


Kepada mereka yang bertanya, “Nanti bagaimana?”
Bagaimana nanti, jawabku.


DIY,
Kamis 15 November 2012

Bagaimana Berhenti

BAGAIMANA CARANYA BERHENTI BERPIKIR, KETIKA CARA MENGHENTIKANNYA HARUS MELALUI PROSES BERPIKIR?

02 January 2013

Pagi Sendu

Suatu pagi yang sendu, dengan keringat yang membasahi baju. Embun pagi yang berserakan di udara, langkah kaki yang terus melaju. Matanya beradu dengan jarak pandang yang hanya sampai beberapa sentimeter tapi ia tak mau mundur. Keningnya berkerut lucu ketika berpikir apakah gerangan yang menghadangnya nanti. Badannya menggigil namun bisa ditahan. Kakinya yang telanjang mati rasa sekalipun rutin digesek tanaman yang basah oleh embun.

Lampu itu tak pernah terlihat, sebuah cahaya yang dulu adalah mercusuar yang megah namun kini terasa tiada perkasa karena diberangus oleh kelembutan embun. Dan di mana gerangan mereka yang dulu mengaku satu rumpun?

Badannya makin kekeringan dengan tulang yang mencuat seolah ingin loncat dari balik kulit. Otaknya berpikir ekstra seiring detak jantungnya yang berpacu. Ketika semua di luar sana merasa bersatu, mengapa ketika ditanya kemana di saat seperti ini, mereka tak anggap bermutu.

Pupilnya melebar, namun bibirnya terkatup semakin irit. Embun pagi yang sendu. Artinya hanya satu, semua semu, sekalipun semanis madu.

13 December 2012

Rotasi


Sepiring sendok dan garpuh menjadi hidangan pembuka hari ini. Jari-jemari orang-orang di sekelilingku saling bersentuhan. Mulut mereka saling berkomat-kamit mengucapkan kata-kata yang tak ku mengerti seperti mantra .Sambil menaruh sendok di atas meja, ku layangkan pandanganku ke luar jendela. Matahari berwarna abu-abu.Ingin kutanya pada mereka tapi tak tega kuhancurkan kekhusyuan yang susah-susah mereka jaga.

Ku biarkan diriku melesat ke luar rumah tanpa bersiap-siap. Cuma modal kolor yang dipakai, kaos polos beraroma keringat, dan sisa parfum kemarin. Ku berlari melewati komedi putar, kusapa semua orang disana tapi tak ada yang menjawab. Aku berlari, pasrah, sejenak baru kusadari sedari tadi aku tertawa, menangis, tanpa ku mengerti.

Beribu-ribu kali aku tersungkur dan meringkih kesakitan tapi tak minta di kasihani. Mendadak suasana jadi ramai ketika kumpulan anjing-anjing menggonggong lewat lalu terbang menuju matahari abu-abu.

Tak juga ku mengerti apa yang kucari. Kali ini, ku biarkan diriku tetap terbenam di atas lumpur ketika ku tersungkur. Kurasakan setiap tubuhku tertelan dan ku tarik nafas dalam-dalam.

Lalu aku menjadi angin.

Kubiarkan seluruh ragaku menghalus, berhembus dan melewati setiap seisi kota. Ku pasrahkan diriku tersaring rambut-rambut, mensapu kulit-kulit asin dan tanah. Ku biarkan semua rasa itu muncul ke permukaan tanpa harus ku genggam. Dan kumasuki sebuah jendela terbuka lalu kurasuki tubuh tak berpenghuni di atas kursi.

Sepiring sendok, garpuh dan dunia yang mendadak asing menjadi hidangan pembuka hari ini. Ku biarkan diriku melesat ke luar rumah tanpa bersiap-siap.


Bandung,
beberapa tahun yang lalu.

08 November 2012

Siapa Bilang

Siapa bilang kalau sudah diutarakan kita bisa terlepas? Jangan harap beban yang daridulu hinggap mendadak jadi ringan seperti kapas.

24 October 2012

Selamat Tinggal


Saya masih belum mengerti tentang apa itu keadilan. Dulu mungkin saya sering berpikir bahwa keadilan berarti, semua mendapatkan bagian yang sama rata. Yang serupa. Tanpa ada perbedaan barang secuilpun. Saat ibumu membagikan sup kepada anak-anaknya, maka setiap anak harus mendapatkan bagian yang sama : semangkuk peranak dengan takaran yang serupa. Jika memang sang ibu tak mampu, maka sepertengah perbagian peranak. Apapun yang mereka punya, setiap anak harus mendapatkan bagian yang serupa tanpa ada perbedaan.

Tapi keadilan mungkin bukan seperti itu. Setiap anak lahir pada tahun yang berbeda, dengan ukuran tubuh yang bervarian pula. Tak semua anak mampu menghabiskan semangkuk sup itu, atau bahkan tak semua anak merasa tercukupi hanya dengan diberi semangkuk sup. Mungkin keadilan adalah sesuatu yang tak patut dipermasalahkan oleh manusia, dan hanya Dia yang tahu jawabnya. Tapi saya manusia, saya punya otak dan hati yang tentunya akan selalu bertanya-tanya.

Hari ini, beberapa jam sebelum saya menuliskan ini, saya mendapat kabar bahwa teman sekampus saya meninggal. Teman sekampus yang dulu mendapatkan tugas yang serupa, sama-sama bermata berat karena begadang, menghirup oksigen yang serupa, membuang sel-sel mati ditempat yang sama. Tapi kini dia malah mengthentikan nafasnya lebih awal, meninggalkan semua seolah hal-hal serupa yang kita jalani tak ada artinya.

Saya benci mendengar ketika teman, keluarga atau orang yang saya kenal telah tiada. Kikuk. Saya benci menangis, tapi saya juga benci pura-pura apatis. Adakah satu sikap yang diciptakan khusus ketika kita menghadapi kepergian seseorang tanpa perlu kita merasa….seperti ini. Beberapa perasaan memang sulit diutarakan dalam bentuk yang lain. Adakah suatu cara untuk menggambarkan sesuatu yang tak dapat kita utarakan dengan hal-hal yang selama ini kita tahu?

Saya tak berbakat menghadapi hal-hal seperti ini. Saya sendiri gak tahu apakah harus bersedu, apakah biasa sajah. Saya gak mau menjadi manusia jahat yang acuh tak acuh, tapi juga gak mau jadi manusia penuh drama yang menangis dalam kapasitas yang sebetulnya tak perlu.

Saya juga tidak suka ketika mendapatkan kabar seperti ini. Saya benci ketika beragam manusia yang mengenal orang itu, mengutarakan kesedihannya pada berbagai media. Tapi, saya juga harus mengerti bahwa setiap orang memilki caranya masing-masing dalam menghadapi hal-hal seperti ini.

Saya benci kematian. Saya benci proses pada kematian. Tidak dapatkah berpamitan terlebih dahulu? Tak dapatkah setelah itu langsung pergi tanpa menyisakan apapun pada diri yang ditinggal. Dapatkah kematian hanyalah sebatas “Oh, oke selamat tinggal!” dan selesai.

Atau, ketika seseorang akan pergi,..tak dapatkah dunia diam?

Diam. Tak ada perasaan apapun yang singgah, tak ada perasaan apapun yang membuat saya menulis semua ini. Ini bukan pelarian, ini curahan. Karena saya tak pernah tahu bagaimana menghadapi hal-hal seperti ini kecuali dengan hal-hal yang sudah saya ketahui sebelumnya. Saya ingin semua diam, tanpa perlu ada unsur apapun yang hinggap.

Sekali lagi, saya tak punya bakat dalam menghadapi hal-hal seperti ini.

Jadi, sekalipun tulisan ini hanya dalam bentuk data, saya harap saya bisa mengucapkan selamat tinggal. Pada dia, seorang teman yang dulu menghirup oksigen yang sama dalam wadah yang serupa. Memperbesar jiwa dan meluaskan pikiran dari sumber yang sama. Selamat tinggal.