Pages

Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

18 September 2013

The Kid with a Bike


Sometimes I thought that I get bored for watching some movies because it lack of background music. But now I know it's wrong. Some movies are still great even without much music that dramatize the plot. Like this French film: The Kid With a Bike.

Cyril, who was left by his father trying to find him but makes some troubles. He wants to get his bicycle back, know where's his father and live with him. But his father abandoned him. Luckily, there is a hairdresser named Samantha who foster him on every weekend.

But bad boy is still gonna be bad. He makes some troubles again. Enough, you have to watch it yourself. I don't say that it's an interesting movies since I know most of people don't like kind of movies like this. But it's worth to watch.

05 May 2013

Pacar Mainan


Kalau di film Drive (2011) Ryan Gosling berlaga cool dan macho dengan aksi ngebut-ngebutan dan tembak-tembakkan yang membuat Carey Mulligan kesemsem, maka di film berdurasi satu setengah jam ini dia justru jadi kebalikannya.

Lars adalah anak kedua dari keluarga Lindstorm yang taat pergi ke gereja  dan tinggal di rumah sederhananya yang jarang sekali bersosialisasi dengan orang-orang sekitar. Apalagi masalah menggaet cewek. Alhasil di umurnya yang sudah 27 tahun, dia tidak memiliki relasi dengan siapapun.


Karin (Emily Mortimer), istri dari Gus atau kakak kandung Lars yang sedang hamil ini khawatir dengan keadaan adik iparnya tersebut. Ia pun berusaha mengajaknya untuk sekedar sarapan, atau makan malam di rumahnya yang hanya terletak beberapa meter di depan rumah Lars agar ia tidak menutup diri lagi. Namun dengan berbagai alasan Lars menolaknya, atau sekalipun datang ia hanya berkutat dengan makanan yang disajikan dan tidak mengeluarkan sepatah katapun.

Hingga suatu saat usaha Karin ini terbayar, Lars datang sendiri ke rumahnya dan meminta bantuan karena ia kedatangan seorang tamu wanita. Tentu saja ia sangat bahagia dan bersedia menyiapkan apapun untuk menyambut satu-satunya wanita yang bisa membuat Lars menjadi lebih terbuka.

Dan satu-satunya wanita yang membuat Lars berubah itu ternyata hanya sebuah boneka.

Lars and the Real Girl adalah film drama comedy tidak hanya membuat tertawa namun juga menyentuh sisi emosional. Dalam film ini Craig Gillespie tidak membicarakan panjang lebar mengenai masalah keluarga yang dihadapi Lars, Gus serta ayah dan ibunya sehingga berdampak pada kehidupan mereka. Namun bagaimana reaksi masyarakat sekitar terhadap orang-orang seperti Lars ini dan bagaimana penonton diharapkan menjadi lebih peka terhadap keadaan sekitar. Misalnya bagaimana teman-teman Lars "meladeni" permainan yang dijalankan oleh Lars dalam pikirannya sendiri dengan ikut serta dalam permainan.

Film ini juga mengingatkan kepada film-film sejenis lainnya, seperti Robbin Williams di One Hour Photo (2002), film dari negeri sakura; Air Doll (2009), atau Jared Letto vokalis 30 Seconds to Mars di Mr. Nobody (2009). Yang pasti, buat siapapun yang menginginkan film selain lucu juga membuat kita berpikir wajib menonton film satu ini.

"We came over and sit, that's what people do when tragedy strikes."

Komedi Italia yang Menyentil


Bagaimana rasanya ketika kita harus menghadapi lingkungan baru yang tak hanya berbeda jauh, namun juga terkenal bisa membuat siapa pun tidak betah berlama-lama di sana?

Maka tanyakanlah kepada seorang manager kantor pos, Alberto Colombo yang diperankan secara apik oleh Claudio Bisio di Benvenuti al Sud, ketika ia harus dipindah tugaskan dari sebuah kota di daerah utara Italia ke Castellabate, sebuah daerah di selatan yang digandang-gandang membuat siapapun pendatang di sana akan menangis menjerit-jerit ingin pulang dan tak mau kembali.

Suhu yang sangat dingin, cara bicara orang-orang yang tak jelas, makanan-makanan yang buruk seperti cokelat yang dicampur dengan daging babi, dan desas-desus lainnya cukup untuk membuat siapapun berpikir sejuta kali untuk tinggal di sana. Tapi Alberto tak punya pilihan lain jika masih ingin bekerja. Dengan terpaksa ia pun meninggalkan Silvia, istrinya yang sering mengomel beserta anaknya sendiri yang tak mau tinggal bersamanya di Castellabate.

Awalnya ia memang sangat membenci tinggal di tempatnya yang baru. Semua orang ia curigai mempunyai niat ingin mencelakainya, dan ia menolak semua orang yang menawarkanya secangkir kopi atau sekedar menikmati hari bersama. Ia mencibiri sifat ketidakefisienan penduduk Castellabate yang masih berpegang teguh pada frasa "Dolce far niente" atau "The sweetness of doing nothing" dibandingkan menggunakan waktu mereka untuk hal-hal yang produktif. Karena tak betah, ia selalu menyempatkan pulang ke daerah asalnya setiap dua minggu sekalipun jaraknya cukup jauh.

Seiring cerita, penonton disuguhkan bagaimana seorang pekerja keras yang sering mengeluh, belajar mencintai hidupnya dengan cara yang berbeda. Juga bagaimana sebetulnya masalah buruk dan baik hanyalah tergantung dari sudut pandang. Belum lagi konflik yang berkembang seiring film ini yang membuat cerita semakin kaya.

Universal
Film berdurasi 104 menit yang memenangkan 5 penghargaan dari 16 nominasi ini memang berlokasi dan berasal dari olahan sang sutradara Italia, Luca Miniero. Tapi pesan dari film ini sendiri sesungguhnya universal; membuat kita untuk tidak menilai sesuatu sebelum kita merasakannya langsung. Belum lagi unsur-unsur komedi yang ada pun bisa dimengerti oleh siapapun, bahkan yang tidak mengetahui apa yang terjadi di negeri yang terkenal dengan beragam kopinya itu.

Pembelajaran
Menonton film ini seolah ingin mengukuhkan betapa cerdasnya film-film komedi dari benua Eropa. Mereka tidak hanya menjual tawa, tapi juga pembelajaran baik dari cerita yang menginspirasi, juga dengan unsur visual dan penataan musik yang sangat apik. Hal ini sepatutnya dapat menjadi bahan referensi untuk sineas-sineas Indonesia agar membuat sebuah film yang tidak hanya mengundang gelak tawa dan laris manis di pasaran, namun juga menginspirasi mereka lewat dunia perfilman dengan mengangkat isu-isu di negeri sendiri.

Film ini sebetuknya merupakan remake dari film Prancis berjudul "Bienvenue chez les Ch'tis" yang juga sukses pada tahun 2008. Sekalipun tidak keluar dari pakem-pakem film sebelumnya, Benvenuti Al Sud ini tetap saja dikemas dengan lebih segar, lucu, dan tentunya menyentil. Kalau jeli, kita bisa menangkap basah sutradara dan pemain film sebelumnya, Dany Boon yang menjadi cameo di sini.