Pages

12 September 2013

Daily Post 3 : Muke Kering

Muka kering kerontang macam tai kucing kering yang dijemur bukan idaman setiap orang sih. Tapi ya bisa nimpa aja yang emang lagi apes; gue. Hidup itu labil, gue yang dulu punya muka berminyak sekarang malah kekeringan. Entah karena kurang air, ngerokok, atau hal-hal lain yang tidak bisa dituliskan dengan kata-kata. Halah.

Akhirnya gue cari tips dan trik buat mengatasi kulit kering ini. Hasilnya gak memuaskan. Paling disuruh buat minum banyak air, berhenti merokok, pakai pelembab wajah, dan bla-bla-bla. Gak ada tips yang lebih heboh sekaligus gampang. Misalnya ternyata biar wajah gak kering sesimpel olesin iler di pagi hari ke wajah.

Ngomong-ngomong tentang pagi,  gue nulis ini di waktu masih pagi. Walaupun belum terlalu pagi sih. Karena setelah baca beberapa artikel entah itu mengenai penulis pada khususnya, atau produktivitas anak muda pada umumnya. Perjalanan gue masih panjang, harus dimulai dari rutinitas walaupun secuil demi secuil tapi terus menerus.

Jadi, selamat pagi!

11 September 2013

Daily Post 2 : Labilisasi Kontroversi Pagi

Karena Vicky emang lagi ngehits, mungkin langkah bijak yang bisa gue ambil adalah belajar menulis dengan gaya seperti doi. Gak usah dimengerti, lah gue aja yang nulisnya bingung. Susah banget ya jadi doi. Bikin gue mikir gimana cara mikirnya biar bisa kaya begitu. Apa yang doi makan dan baca, terus siapa aja sih kenalan doi yang bisa buat doi jadi kaya begono. Ah, itu misteri ilahi.

Maka alarm semestinya sudah dinon-aktifkan untuk menunjang quality of sleeping yang dapat menghasilkan timing untuk terlelap lebih luas lagi. Lalu, jika quality dan perpanjangan masa terlelap telah panjang, dapat dipastikan bahwa sebuah mood dapat menjauhisasi dari fluktuasi hati. Ketika hati tidak lagi mengalamisasi fluktuasi perasaan, apakah dapat menjaminkan ketidak pastian darinya mengalami nihilisasi?

Ah, it's ok. Maybe we better try di lain time ketika our day mengizinkan kita untuk mengkomunikasikan apa-apa yang selama ini tidak dinetralisir. Menciptakan hubungan-hubungan tidak diinginkan yang memunculkan energi kalor di dalam hati.

Jadi, untuk itu mari kita sebaiknya mensortir apa-apa yang akan kita let it masuk ke dalam sistem perhatian dan pemikiran kita. So, we'll have a better life dengan harmonisasi hati, pikiran untuk terutama di waktu pagi.

10 September 2013

Daily Post 1 : Rindu

Karena males harus dilawan, jadilah gue menelurkan ini : Daily Post! Bukan sesuatu yang baru. Banyak orang yang udah dari dulu mulai; ada yang sukses, ada yang kembali males. Targetnya sih gak muluk-muluk tapi ga terlalu enteng juga: Sebulan. Atau lebih tepatnya 30, cukup segitu gak kurang gak lebih. Kelanjutannya gimana nanti, gue gak mau muluk-muluk.

Mekanismenya gue atur sendiri. Misalnya hari pertama ini gue gabungin dua hal yang gue pilih secara random dan gue harus bikin tulisan dari situ. Seberapa pendek atau panjangnya. Dan dua hal yang beruntung itu adalah : Telepon dan Truk. Karena kebetulan pas ide ini terbesit gue ngeliat telepon, lalu ngeliat keluar dan ada truk.

Bacot. Mulai dah!

Istri saya emang gak secantik Asmirandah yang di poster temen-temen saya simpen. Yang lain pada nyimpen emang buat ngilangin "anu", tapi saya gak mau. Saya cuma kepengen "anu" sama istri saya yang lebih cantik dari Asmirandah, atau neng Idah, neng Chacha, terus neng Pinki yang sering ngebor kalau lagi manggung. Cuma istri saya yang paling seksi.

Bolak-balik Jakarta-Tegal bikin saya jarang ketemu istri. Kita emang cuma hidup berdua karena nda' bisa ngasilin anak. Dulu, bapaknya istri saya minta saya cerai aja biar istri saya bisa punya keturunan. Saya juga gak bisa nolak sebenernya, lah wong saya cinta moso iya saya biarin dia menderita gara-gara saya? Tapi istri saya malah maksa saya buat gak ceraiin saya. Dia ndak mau punya suami selain saya katanya. Dia sampe nangis-nangis jelasin ke bapak-ibunya kalau dia cuma cinta sama saya. Untungnya bapak-ibunya ngertiin saya. Biar Lastri, adiknya istri saya aja yang nanti bayar utang keturunan buat mereka.

Saya harus kuat. Harusnya dua bulan lagi uang saya bakalan cukup buat beli henpon, langsung beli dua. Biar gak melulu minjem telepon atau henpon temen buat nelpon ke rumah bapaknya istri saya. Itu juga harus nunggu istri saya buat jalan dulu ke rumah bapaknya. Kalau istri saya masih jualan jamu, ya gak bisa nelpon. Kangennya gak bakalan sembuh-sembuh.

Lah ya tapi ya namanya nasib ya mau gimana. Dua bulan lagi saya harus tetep pinjem telepon buat nelpon ke istri saya. Tadi duit saya gak tau kemana, gak tau diambil orang atau diambil siapa. Sejujurnya curiga sama Pak Dede yang tadi gak tau ngapain ada di truk saya pas baru balik kencing, tapi ya gak baik nuduh orang yang enggak-enggak. Ya wis lah, mau gimana lagi. Mau mewek juga nda bisa, nanti telat ngirimnya. Besok saya bilang supaya istri saya gak usah dulu milih-milih nomer hape buat berdua.

Sekarang sih, pake poster Asmirandah dulu aja lah ya terpaksa.

Copywriter



Udah sewindu kayaknya gak nulis di blog, sampe lupa ninggalin blog ini dalam keadaan gak beres. Ah tapi ya nanti aja lah.

Bulan Juni sampai September kemarin, di mana saat-saat itu sebenarnya bisa digunakan untuk traveling ke sana-sini sambil nyantai sampai dekil, gue magang. Klise, umumnya orang setuju kalau apa yang kita impikan pasti akan jadi kenyataan. Ini juga yang akhirnya kesampaian.

Tempat ini emang apa yang gue impikan sejak tahun-tahun awal perkuliahan buat jadi tempat magang. 
Paul Coelhe bilang, “When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.” dengan bagaimana pun caranya, gue berhasil untung magang di tempat yang emang gue pengen.

As a copywriter!

Sekalipun gue dari kecil emang suka nulis, tetep aja banyak hal yang gue masih ngos-ngosan untuk mempelajari copywriting ini. Gak sesimpel dengan yang dibayangin, tapi lebih asyik dari yang dibayangin. Apalagi kuliah di DKV yang banyak berkutat dengan visual sering kebawa-bawa saat membuat radio script. Bener-bener belajar dari nol, atau bahkan dari minus 100 tentang copywriting, advertising dll.

The best part of it adalah adanya orang-orang yang ngasih kritik dan saran tentang copywriting gue sendiri. Dimulai dari "Bahasa lu tua banget!", "Ini sih visual banget." sampai "Ini bukan Turangga yang gue harapkan." jatuh bangunnya kerasa di sini. Tapi ini yang emang gue harapkan sebelum masa magang, di mana ada orang yang emang ahlinya di bidang ini dan memberikan saran ke gue tentang copywriting gue ini. Karena di bangku perkuliahan, masih jarang ditemukan orang-orang yang memiliki minat di copywriting ini.

Gue gak akan membeberkan secara jelas tugasnya copywriter ini ngapain aja. Itu bisa didapat dari internet. Apalagi ilmu copywriting gue, yang tadinya minus sekarang mungkin baru mencapai titik nol. Harus belajar lagi.

Kalau mau disimpulkan dalam satu kalimat, apa yang gue pelajari dari magang di Lowe Indonesia ini adalah "Bersikap dan berpikiran terbuka untuk tahu lebih banyak tentang semua hal". Dengan tahu, kita bisa menghargai, entah itu menghargai ide yang tiba-tiba nongol di malam hari saat kita mau tidur dengan menulisnya, menghargai dan mendengarkan saran-saran AE (Account Executive), klien, dan semuanya. Dengan berpikiran terbuka, kita gak malu-malu untuk mendengar semua genre musik yang enggak kita banget misalnya dangdut, rock, sampai Arab disko yang bisa jadi inspirasi. Hal ini bukan cuma buat copywriter, art director atau orang-orang kreatif, tapi juga buat semua orang.

Lalu, selain copywriting, gue juga sadar bahwa mempelajari ilmu Psikologi itu penting. Hubungannya dengan advertising, dan copywriting adalah dengan mempelajari psikologi gue bisa tahu bagaimana caranya berbicara dengan Target Audiens, atau target orang untuk produk yang gue jualkan itu. Banyak banget yang harus dipelajarin, semoga gak malas.

Laluuu the best of the best nya adalah, akhirnya gue bisa membayangkan diri gue di masa depan nanti. Kalau dulu masih bingung kalau udah lulus kuliah gue bakalan jadi apaan, sekarang udah jelas bahwa di masa depan nanti, gue ingin menjadi seorang COPYWRITER.




21 July 2013

Parsial


Lucu ya jika ingin menulis tapi tak tahu apa yang ingin ditulis. Seperti ingin berbicara tapi tak tahu apa yang ingin diutarakan. Ada yang menggunung dari hati atau pikiran dan tak mungkin lebih lama ditampung. Ah, bahkan tak tahu mana yang dari hati dan mana yang dari pikiran. Kok berani tiba-tiba menumpuk.

Lalu apa mereka sebetulnya bekerja sendiri-sendiri? Lalu siapa diri ini sendiri jika hati dan pikirannya bekerja terpisah. Bukan pertanyaan sebenarnya, maka tak perlu pakai tanda tanya.

Katanya waktu akan menjawab semua. Lalu apa itu waktu, atau siapa? Yang punya keterampilan untuk menjawab semua tanya dan bahkan katanya luka. Karena yang diketahui hanya suara jarum jam yang berkutik konstan.

Kembali kepada tujuan awal, mengapa menulis jika tak tahu apa maknanya? Lalu siapa itu yang berpangkat cukup tinggi untuk lancang bertanya makna. Lagi, bukan pertanyaan karena pakai titik bukan tanda tanya.

Jadi ya biarkan saja apa adanya, katanya. Tapi tolong jangan halangi jemari-jemari yang ingin mengutarakan apa yang ada di hati dan pikiran sekalipun terpisah-pisah. Ada larangan?

08 June 2013

Diobok

Hidup bisa berubah setelah bangun tidur. Setelah menunggu sampai mengorbankan hal-hal yang sangat penting seperti liburan bareng teman, waktu, hingga duit yang dikuras untuk bolak-balik luar kota akhirnya terbalaskan. Akhirnya malah seneng. Gue diterima untuk Kerja Profesi di suatu agensi periklanan di Jakarta.

Mulainya hari Senin besok, 2 hari lagi. Dan gue yang saat itu lagi sarapan bareng temen gue, masih masang muka kucel baru bangun tidur cuma cengengesan baca email di handphone.

Terus diem.

Lucu ya, emosi jadi diobok-obok. Kemarin gundah gulana, sekejap bahagia, lalu kembali gundah gulana. Bingung mau bawa apa aja yang harus dibawa. Yang esensial ya laptop, baju, celana, hingga selempak. Beberapa buku. Sabun, samphoo bisa beli di sana. Selimut! biarpun di sana dikate panas, tetep aja bakalan susah tidur kalau gak ada itu barang.

Halah, sok-sokan mau bawa apaan. Belum juga dapet tempat buat di sana. Sepasukan teman lagi nyari di sana. Gue minta tolong dengan koneksi yang gue punya, dari temen sekolah, temen nyokap, sampe googling dengan macam-macam keyword "Kos Kebayoran Baru", lalu "Kos Blok M", dan kalau udah bete bisa jadi "Kos Deket Blok M Gak Bohong Fasilitas Cukup Harga Gak Bikin Bego", hasilnya gak seberapa. Ada yang disms panjang-panjang jawabannya judes, sumpahin besok pagi bokernya gergaji.

Waktunya mepet. Harusnya girang sampe lompat-lompat terus ketawa-ketiwi sampe mencret. Pengalaman baru coy. Ketemu orang baru. Stress baru. Tapi ya banyak yang harus dipikirkan, diselesaikan, diini-itukan.

Selamat tinggal jangan? Gak usah. Ntar juga lupa.

06 June 2013

The Art of Hoping Nothing

Banyak hal yang harusnya diceritakan. Tapi tak sempat karena mengurus ini-itu. Banyak yang pergi, banyak pula yang masih berdiam diri. Ke sana, ke sini. Misalnya di sini, masih berharap untuk mendapatkan kepastian dari satu agensi yang dia inginkan dari dulu. Tapi, mungkin jangan terlalu berharap sekalipun optimis. Jadilah realismis, realistis tapi optimis. Maka bisa jadi harusnya membiarkan harapan-harapan itu ditaruh dulu karena butuh istirahat untuk tidur. Cuci kaki, muka hingga sikat gigi. Ambil buku tebal dari rak untuk pengantar tidur. Ketik sedikit cerita untuk di jurnal, atau di dunia maya. Tinggal tunggu kabar apakah memenuhi kualifikasi atau ternyata tidak. Yeah, sometimes, the more things you want, the heavier your life gonna be. So I let everything happens to me.