Pages

29 April 2013

Jadi Gelandangan Pulang Liburan

Liburan mengasyikkan di akhir pekan bareng teman-teman. Pulang naik travel dari malam sampai pagi. Asyik bisa tidur doang di mobil! Sampe pagi pas badan pegel-pegel,  yang diduga kumat ketika tahu bahwa liburan telah usai. Sebentar,

pengen bahagia dulu membayangkan apa aja yang akan dilakukan setelah masuk kamar kosan; joget-jogetan, makanin Chitato 3 bungkus, lompat-lompat, dan lain-lain. Eh, kan pegel? Ya udah tidur aja deh. Ngantuk juga deh, pengen merem terus seger pas melek.

Akhirnya sampai juga.

Ngambil tas yang berat terus pamitan sama teman-teman, pake gaya artis yang keluar dari mobil di Wall of Fame. Bedanya gak ada fotografer yang sudi ngambilin gambar orang baru bangun tidur dengan muka yang masih kaya kardus basah. Mobilnya pergi, dadah. Kaki dilangkahkan menuju kosan dengan senyum kelegaan mau istirahat.

Lupa kunci kosan ketinggalan pas liburan.

Gak bisa tiduran.

Jadi gelandangan.


18 April 2013

Konsistensi

Karena butuh sebuah konsistensi katanya, biar apa yang diinginkan jadi terwujud. Akhirnya maksain diri buat nulis lagi di blog tentang apapun, atas nama konsistensi. Tapi bukannya gak pake hati dan ngetik pake keluhan yang terus-terusan sampe akhir tulisan. Enggak kok. Karena akhir-akhir ini memang lagi malas saja, malas nulis di sini. Tenang, tapi tetep nulis kok di jurnal nyata bukan di dunia maya. Belum lagi make ini tangan buat menggores pensil atau media apapun buat ngegambar, mau ngegambar bener atau acak kadut. Atau juga melukin mouse pake tangan buat ngeberesin sesuatu rancangan desain. Wah kedengerennya keren, padahal ya gitu. Begitu. Ini nih kalau nasib jadi orang yang gampang dibuat bosen. Bosen sama hal. Bosen sama kerjaan. Bosen sama orang. Bosen sama yang monoton dan itu-itu doang. Akhirnya ngegerakkin kaki lagi buat nyari hal baru, yang udah diakui secara internasional bisa datangin inspirasi. Ya, itung-itung berekspresi dengan cara lain. Karena beberapa orang dilahirkan dengan emosi di atas rata-rata yang lain dan gak semua orang mengerti. Jadi butuh penyaluran lebih dari satu biji. Apapun itu, coba tawarin. Siapa tau ini, di sini, yang lagi ngetik sambil kebosenan karena idupnya gini-gini ajah lagi pengen nyobain. Nyobain suatu hal. Nyobain suatu kerjaan. Nyobain orang? Tenang, gak bakalan gigit kok.

09 April 2013

Piring di tangan kiri, baru lima menit yang lalu ada hidangan di atasnya : sepotong kue manis ber-mayonaise dan bermahkota buah cherry. Ia minta nambah lagi. Badannya gempal, kulitnya hitam pekat, dan baunya buju buneng tak kepalang. Dan hanya ada satu orang yang tahan berjam-jam menghabiskan waktu dengannya. Ia adalah manusia berpikiran paling luas yang pernah dijumpai di abad ini, tak pernah ingin berkomentar, menghardik, atau bahkan menertawai. Ia mendengarkan setiap cerita selapis demi selapis sekalipun dirinya bosan tapi tak pernah meninggalkan.

04 April 2013

Surat Terbuka Buat Ngat

Ngat, lu kemana aja? Udah lama amat kaga balik-balik. Dengerin nih Ngat, lu buruan balik dari perantauan lu yang entah sekarang membawa lu ke mana; mungkin ke tong sampah, terus diembat sama truk dinas kebersihan, dijadiin kompos atau malah dianggurin di pinggir sungai gara-gara kaga tau lu sampah jenis apaan.

Tai.

Di sini empunya lu lagi butuhin lu sekarang banget. Sekarang, bukan semester depan. Urgent, se-urgent nahan boker sewindu gara-gara gak nemuin air buat cebok atau sekedar tisu atau minimal kertas koran buat menggosok sisa "itu" dari lubang pantat.

Bukan idealis. Bukan se-idealis orang yang nahan boker gara-gara cuma mau boker di pispot jongkok di negeri orang yang udah gak punya benda macam begituan. Ini masalah eksistensi biar si gue bisa nyelonong lagi menghadapi kehidupan ini yang katanya sepedes gehu pedes yang dimakan pake cabe rawit dua baskom. Gak pake minum.

Ketawa lu Ngat, buruan balik. Masalahnya, gak ada akun jejaring sosial macam Twitter, Facebook atau akun Line yang bisa membuat gue menjangkau keberadaan lu itu. Mau ngirim surat atau sekedar kartu pos, tapi cuma berakhir ditanya sama penjaga : "Alamatnya di mana?" akhirnya ditolak karena gak memenuhi kriteria untuk mengirim sebuah pesan.

Masalah selanjutnya adalah gak tau lu tersemat di benda jenis apaan sekarang. Gak ada lu yang jadi bonus dari chiki-chiki atau permen lollipop yang dibeli di warung pinggir jalan. Gak ada juga di secangkir kopi legendaris di kota ini, atau di tempat nongkrong paling nguras dompet di daerah sekitar sini.

Buruan balik, jangan sampai bikin darah tinggi. Hari ini udah nurun 5 kilo, berani-beraninya kaga balik-balik sampe bikin berat badan turun padahal sering jajan makanan berlemak jenuh macam gorengan yang satuannya gope.

Jangan kurang ajar sampai maksa gue buat jadi personil boyband yang modal tampang doang tapi otak nihil dengan suara editan dan modal goyang seadanya di atas panggung. Atau buat gue jadi pemain sinetron yang digandrungi emak-emak sambil nemenin anaknya yang pura-pura belajar. Cuma biar ketemu elu.

Kalau gak punya ongkos tinggal telepon atau cukup kirim email yang beralamat (nama lengkap gue)@gmail.com dan bilang berapa duit yang lu butuh buat balik, biar nanti ditransfer. Bukan karena kebanyakan duit, tapi lu masih termasuk dalam prioritas ke mana duit bulanan gue mau dialokasikan.

Cukup, karena gue tau lu bukan jenis makhluk yang doyan baca teks panjang-panjang. Percuma juga kalau lu lagi asyik-asyiknya minggat, karena pesan sebenarnya cuma satu kalimat :

"Buruan balik, Semangat."

24 March 2013

Lem

Kadang hidup ngebawa kita untuk berperan jadi lem, yang nempelin satu bagian dengan bagian yang lain. Tapi juga harus menerima resiko untuk dibenci karena lengketnya sering bikin jijik orang dan dikira sok asik nyatu-nyatuin. Hal ini kadang emang keterpaksaan, karena bagian-bagian lain terlalu gengsi sehingga terlalu padat untuk jadi lem yang merekatkan semua. Padahal mungkin kita gak lagi pengen jadi lem, kita mungkin pengen jadi yang lain yang lebih bergengsi daripada sekedar lem, yang justru sering dibenci.

12 March 2013

Tesaurus



Bersyukurlah gue gak lahir di zaman dinosaurus, jadi gue bisa beli tesaurus. Kebayang kalau gue lahir di zaman dinosaurus, gak ada Gramedia, gak ada Togamas, gak ada Rumah Buku, dan gak ada toko buku online, kebayang susah banget dapetin ginian. Dan kalau udah dapet pun diyakini gak bakalan bisa tenang karena sewaktu-waktu bisa aja ada dinosaurus yang makanin ini buku, atau bahkan melahap habis-habis badan gue yang mungkin cuma cukup jadi cemilan atau lalapan ini.

Benda yang tebelnya setebel harganya juga ini dibeli setelah mendapatkan saran, rekomendasi dari para penulis dan editor terkemuka. Halah! alasan utamanya ya tuntutan. Benda ini emang berguna banget buat gue yang doyan nulis, mau nulis jelas atau amburadul gak beraturan macam beginian. Ya, semoga emang ngebantu banget buat gue yang kepengen jadi penulis novel fantasi, travel writer dan juga copywriter ini.

A-
(dibaca: AMIN!)

05 March 2013

Ia Sedang Sibuk

Tubuhnya ceking, dan jemarinya terlampau kurus untuk mengalahi batang rokoknya yang lebih panjang dan tebal. Ia hisap batang rokok itu dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya dengan fasih seolah sudah biasa.

Padahal ia baru dapat sebatang rokok itu dari seorang pelanggan.

Ketika itu ia sedang sibuk membalikkan meja suruhan majikannya yang gendut dan galak bukan main. Sore itu tiba-tiba hujan, tempat makan itu kecipratan lalu merisaukan para tamu yang sedang asyik nongkrong. Padahal pikirannya sedang dihujani beragam keluhan tentang masa kecilnya yang harus diisi dengan mencari uang.

Para tamu itu, adalah mahasiswa-mahasiswi yang Tuhan beri kecukupan untuk berkuliah. Tempat makan itu adalah tempat di mana mereka menenangkan perut-perut gelisah. Ada fasilitas WiFi bagi mereka yang ingin berselancar di dunia maya baik untuk membantu membabat tugas-tugas, atau hanya untuk menghibur mereka selepas dari ruang kelas yang bagi mereka cukup menyiksa.

Mereka tidak mengerti. Tidak ada matakuliah yang khusus mempelajari tentang bagaimana isi hati seorang anak kurus ceking yang mencari upah di tempat makan para mahasiswa-mahasiswi intelektual. Mereka, juga sibuk bercengkrama lewat teman mereka di depan, dan teman mereka di dunia maya. Tuhan tidak berhak memurkai mereka. Ia tak mengajar di universitas manapun karena terlampau gengsi, itu jelas kesalahanNya.

Tuhan juga tidak berhak mengazab para pengajar karena ia tak pernah berdiskusi ketika mereka membahas kurikulum. Ia bersembunyi, berdalih bahwa pikiran-pikirannya telah ia anak-pinakkan kepada hamba-hambanya yang tak pernah diberi konfirmasi soal kiriman.

Maaf, anak itu tidak peduli tentang semua di atas. Ia hisap batang rokok itu membiarkan bibirnya menghitam. "Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin." Hanyalah omong kosong baginya. Tidak merokok tidak bisa membuatnya mendapatkan apa yang ia inginkan.

Pelanggan itu, memintanya duduk dan memberinya sebatang rokok. Ia dan teman-temannya bertanya mengapa ia bekerja bukannya bersekolah. Ah, pertanyaan konyol itu keluar dari mulut seorang mahasiswa yang pastinya sudah tau mengapa. Ia tak punya duit. Di kantung celana panjangnya yang paling bagus dan sengaja ia pilih khusus untuk hari pertama kerjanya itu, hanya ada lima ribu rupiah untuk ongkos pulang.

Hujan turun semakin deras, para mahasiswa-mahasiswi tak mau kalah lalu berbicara keras-keras.

Ia ingin berlari sendiri kala itu.
Ia ingin berlari sekecang-kencangnya dan menangis sendiri.
Ia ingin cengeng, itu adalah haknya karena telah melalui kehidupannya yang tinggi dan terjal.
Ia ingin menjerit dan berteriak;

"Teman-teman, aku ingin bermain!"

Sementara itu, di tempat yang berbeda-beda, teman-temannya, sedang sibuk melepas seragam sekolah mereka untuk dicuci, sambil bertanya dalam hati; "Di mana temanku yang tiba-tiba putus sekolah itu?"

Ia sedang sibuk menghisap batang rokok pemberian seorang pelanggan, gratis. Tanpa embel-embel biaya tambahan ini itu seperti sekolah.


Bandung,
4 Maret 2013.
Di sebuah tempat makan.