Piring di tangan kiri, baru lima menit yang lalu ada hidangan di atasnya : sepotong kue manis ber-mayonaise dan bermahkota buah cherry. Ia minta nambah lagi. Badannya gempal, kulitnya hitam pekat, dan baunya buju buneng tak kepalang. Dan hanya ada satu orang yang tahan berjam-jam menghabiskan waktu dengannya. Ia adalah manusia berpikiran paling luas yang pernah dijumpai di abad ini, tak pernah ingin berkomentar, menghardik, atau bahkan menertawai. Ia mendengarkan setiap cerita selapis demi selapis sekalipun dirinya bosan tapi tak pernah meninggalkan.
09 April 2013
04 April 2013
Surat Terbuka Buat Ngat
Ngat, lu kemana aja? Udah lama amat kaga balik-balik. Dengerin nih Ngat, lu buruan balik dari perantauan lu yang entah sekarang membawa lu ke mana; mungkin ke tong sampah, terus diembat sama truk dinas kebersihan, dijadiin kompos atau malah dianggurin di pinggir sungai gara-gara kaga tau lu sampah jenis apaan.
Tai.
Di sini empunya lu lagi butuhin lu sekarang banget. Sekarang, bukan semester depan. Urgent, se-urgent nahan boker sewindu gara-gara gak nemuin air buat cebok atau sekedar tisu atau minimal kertas koran buat menggosok sisa "itu" dari lubang pantat.
Bukan idealis. Bukan se-idealis orang yang nahan boker gara-gara cuma mau boker di pispot jongkok di negeri orang yang udah gak punya benda macam begituan. Ini masalah eksistensi biar si gue bisa nyelonong lagi menghadapi kehidupan ini yang katanya sepedes gehu pedes yang dimakan pake cabe rawit dua baskom. Gak pake minum.
Ketawa lu Ngat, buruan balik. Masalahnya, gak ada akun jejaring sosial macam Twitter, Facebook atau akun Line yang bisa membuat gue menjangkau keberadaan lu itu. Mau ngirim surat atau sekedar kartu pos, tapi cuma berakhir ditanya sama penjaga : "Alamatnya di mana?" akhirnya ditolak karena gak memenuhi kriteria untuk mengirim sebuah pesan.
Masalah selanjutnya adalah gak tau lu tersemat di benda jenis apaan sekarang. Gak ada lu yang jadi bonus dari chiki-chiki atau permen lollipop yang dibeli di warung pinggir jalan. Gak ada juga di secangkir kopi legendaris di kota ini, atau di tempat nongkrong paling nguras dompet di daerah sekitar sini.
Buruan balik, jangan sampai bikin darah tinggi. Hari ini udah nurun 5 kilo, berani-beraninya kaga balik-balik sampe bikin berat badan turun padahal sering jajan makanan berlemak jenuh macam gorengan yang satuannya gope.
Jangan kurang ajar sampai maksa gue buat jadi personil boyband yang modal tampang doang tapi otak nihil dengan suara editan dan modal goyang seadanya di atas panggung. Atau buat gue jadi pemain sinetron yang digandrungi emak-emak sambil nemenin anaknya yang pura-pura belajar. Cuma biar ketemu elu.
Kalau gak punya ongkos tinggal telepon atau cukup kirim email yang beralamat (nama lengkap gue)@gmail.com dan bilang berapa duit yang lu butuh buat balik, biar nanti ditransfer. Bukan karena kebanyakan duit, tapi lu masih termasuk dalam prioritas ke mana duit bulanan gue mau dialokasikan.
Cukup, karena gue tau lu bukan jenis makhluk yang doyan baca teks panjang-panjang. Percuma juga kalau lu lagi asyik-asyiknya minggat, karena pesan sebenarnya cuma satu kalimat :
"Buruan balik, Semangat."
24 March 2013
Lem
Kadang hidup ngebawa kita untuk berperan jadi lem, yang nempelin satu bagian dengan bagian yang lain. Tapi juga harus menerima resiko untuk dibenci karena lengketnya sering bikin jijik orang dan dikira sok asik nyatu-nyatuin. Hal ini kadang emang keterpaksaan, karena bagian-bagian lain terlalu gengsi sehingga terlalu padat untuk jadi lem yang merekatkan semua. Padahal mungkin kita gak lagi pengen jadi lem, kita mungkin pengen jadi yang lain yang lebih bergengsi daripada sekedar lem, yang justru sering dibenci.
12 March 2013
Tesaurus
Benda yang tebelnya setebel harganya juga ini dibeli setelah mendapatkan saran, rekomendasi dari para penulis dan editor terkemuka. Halah! alasan utamanya ya tuntutan. Benda ini emang berguna banget buat gue yang doyan nulis, mau nulis jelas atau amburadul gak beraturan macam beginian. Ya, semoga emang ngebantu banget buat gue yang kepengen jadi penulis novel fantasi, travel writer dan juga copywriter ini.
A-
(dibaca: AMIN!)
05 March 2013
Ia Sedang Sibuk
Tubuhnya ceking, dan jemarinya terlampau kurus untuk mengalahi batang rokoknya yang lebih panjang dan tebal. Ia hisap batang rokok itu dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya dengan fasih seolah sudah biasa.
Padahal ia baru dapat sebatang rokok itu dari seorang pelanggan.
Ketika itu ia sedang sibuk membalikkan meja suruhan majikannya yang gendut dan galak bukan main. Sore itu tiba-tiba hujan, tempat makan itu kecipratan lalu merisaukan para tamu yang sedang asyik nongkrong. Padahal pikirannya sedang dihujani beragam keluhan tentang masa kecilnya yang harus diisi dengan mencari uang.
Para tamu itu, adalah mahasiswa-mahasiswi yang Tuhan beri kecukupan untuk berkuliah. Tempat makan itu adalah tempat di mana mereka menenangkan perut-perut gelisah. Ada fasilitas WiFi bagi mereka yang ingin berselancar di dunia maya baik untuk membantu membabat tugas-tugas, atau hanya untuk menghibur mereka selepas dari ruang kelas yang bagi mereka cukup menyiksa.
Mereka tidak mengerti. Tidak ada matakuliah yang khusus mempelajari tentang bagaimana isi hati seorang anak kurus ceking yang mencari upah di tempat makan para mahasiswa-mahasiswi intelektual. Mereka, juga sibuk bercengkrama lewat teman mereka di depan, dan teman mereka di dunia maya. Tuhan tidak berhak memurkai mereka. Ia tak mengajar di universitas manapun karena terlampau gengsi, itu jelas kesalahanNya.
Tuhan juga tidak berhak mengazab para pengajar karena ia tak pernah berdiskusi ketika mereka membahas kurikulum. Ia bersembunyi, berdalih bahwa pikiran-pikirannya telah ia anak-pinakkan kepada hamba-hambanya yang tak pernah diberi konfirmasi soal kiriman.
Maaf, anak itu tidak peduli tentang semua di atas. Ia hisap batang rokok itu membiarkan bibirnya menghitam. "Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin." Hanyalah omong kosong baginya. Tidak merokok tidak bisa membuatnya mendapatkan apa yang ia inginkan.
Pelanggan itu, memintanya duduk dan memberinya sebatang rokok. Ia dan teman-temannya bertanya mengapa ia bekerja bukannya bersekolah. Ah, pertanyaan konyol itu keluar dari mulut seorang mahasiswa yang pastinya sudah tau mengapa. Ia tak punya duit. Di kantung celana panjangnya yang paling bagus dan sengaja ia pilih khusus untuk hari pertama kerjanya itu, hanya ada lima ribu rupiah untuk ongkos pulang.
Hujan turun semakin deras, para mahasiswa-mahasiswi tak mau kalah lalu berbicara keras-keras.
Ia ingin berlari sendiri kala itu.
Ia ingin berlari sekecang-kencangnya dan menangis sendiri.
Ia ingin cengeng, itu adalah haknya karena telah melalui kehidupannya yang tinggi dan terjal.
Ia ingin menjerit dan berteriak;
"Teman-teman, aku ingin bermain!"
Sementara itu, di tempat yang berbeda-beda, teman-temannya, sedang sibuk melepas seragam sekolah mereka untuk dicuci, sambil bertanya dalam hati; "Di mana temanku yang tiba-tiba putus sekolah itu?"
Ia sedang sibuk menghisap batang rokok pemberian seorang pelanggan, gratis. Tanpa embel-embel biaya tambahan ini itu seperti sekolah.
Bandung,
4 Maret 2013.
Di sebuah tempat makan.
Padahal ia baru dapat sebatang rokok itu dari seorang pelanggan.
Ketika itu ia sedang sibuk membalikkan meja suruhan majikannya yang gendut dan galak bukan main. Sore itu tiba-tiba hujan, tempat makan itu kecipratan lalu merisaukan para tamu yang sedang asyik nongkrong. Padahal pikirannya sedang dihujani beragam keluhan tentang masa kecilnya yang harus diisi dengan mencari uang.
Para tamu itu, adalah mahasiswa-mahasiswi yang Tuhan beri kecukupan untuk berkuliah. Tempat makan itu adalah tempat di mana mereka menenangkan perut-perut gelisah. Ada fasilitas WiFi bagi mereka yang ingin berselancar di dunia maya baik untuk membantu membabat tugas-tugas, atau hanya untuk menghibur mereka selepas dari ruang kelas yang bagi mereka cukup menyiksa.
Mereka tidak mengerti. Tidak ada matakuliah yang khusus mempelajari tentang bagaimana isi hati seorang anak kurus ceking yang mencari upah di tempat makan para mahasiswa-mahasiswi intelektual. Mereka, juga sibuk bercengkrama lewat teman mereka di depan, dan teman mereka di dunia maya. Tuhan tidak berhak memurkai mereka. Ia tak mengajar di universitas manapun karena terlampau gengsi, itu jelas kesalahanNya.
Tuhan juga tidak berhak mengazab para pengajar karena ia tak pernah berdiskusi ketika mereka membahas kurikulum. Ia bersembunyi, berdalih bahwa pikiran-pikirannya telah ia anak-pinakkan kepada hamba-hambanya yang tak pernah diberi konfirmasi soal kiriman.
Maaf, anak itu tidak peduli tentang semua di atas. Ia hisap batang rokok itu membiarkan bibirnya menghitam. "Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin." Hanyalah omong kosong baginya. Tidak merokok tidak bisa membuatnya mendapatkan apa yang ia inginkan.
Pelanggan itu, memintanya duduk dan memberinya sebatang rokok. Ia dan teman-temannya bertanya mengapa ia bekerja bukannya bersekolah. Ah, pertanyaan konyol itu keluar dari mulut seorang mahasiswa yang pastinya sudah tau mengapa. Ia tak punya duit. Di kantung celana panjangnya yang paling bagus dan sengaja ia pilih khusus untuk hari pertama kerjanya itu, hanya ada lima ribu rupiah untuk ongkos pulang.
Hujan turun semakin deras, para mahasiswa-mahasiswi tak mau kalah lalu berbicara keras-keras.
Ia ingin berlari sendiri kala itu.
Ia ingin berlari sekecang-kencangnya dan menangis sendiri.
Ia ingin cengeng, itu adalah haknya karena telah melalui kehidupannya yang tinggi dan terjal.
Ia ingin menjerit dan berteriak;
"Teman-teman, aku ingin bermain!"
Sementara itu, di tempat yang berbeda-beda, teman-temannya, sedang sibuk melepas seragam sekolah mereka untuk dicuci, sambil bertanya dalam hati; "Di mana temanku yang tiba-tiba putus sekolah itu?"
Ia sedang sibuk menghisap batang rokok pemberian seorang pelanggan, gratis. Tanpa embel-embel biaya tambahan ini itu seperti sekolah.
Bandung,
4 Maret 2013.
Di sebuah tempat makan.
19 February 2013
The Less I Care, the Happier I Will Be
Ada banyak alasan kenapa seseorang bisa terkena insomnia. Mulai dari psikologis sampai biologis. Internal atau eksternal. Tapi insomnia versi gue sederhana: pada suatu malam ketika gue udah menutup badan dengan selimut tapi gak bisa tidur-tidur gue kepikiran ke mana ya temen gue, si penjual lotek itu sekarang berada? Gue pun membulatkan tekad untuk menulis tentang dia di blog. Dengan harapan siapa tau ada yang tau dan bisa menghapus rasa penasaran gue yang lama-lama bisa bikin gue gila sendiri cuma gara-gara udah lama gak makan lotek.
Tapi namanya juga kehidupan. Bejibun banget dengan hal-hal yang gak sesuai rencana. Pas sekali saat gue mau menulis tentang penjual lotek langganan gue dulu itu, Cinnamon, Simon atau Temon, kucing peliharaan di rumah ini lalu mengeong-ngeong dengan nada iba ke gue.
Seketika gue tau kok dia kelaparan, secara doi sering banget nyamperin gue kalau dia lagi kelaperan. Mungkin semua ini gak jadi cerita kalau gue akhirnya kasih apa yang dia mau. Masalahnya adalah, makanan dia yang biasanya ditaruh di tempat yang gue tau sekarang malah gak ada. Waduh, ini gimana dong? Udah malem lagi.
Gue pun menjelajahi rumah buat mencari makanan dia yang entah digondol siapa. Tega banget ngambil makanan kucing yang innocent ini. Sampai bikin gue kesel sendiri karena gak berdaya buat membantu si Simon.
Gak parah-parah amat sih sebenernya. Masih ada sisa makanan di mangkuknya dia. Tapi ya cuma beberapa biji. Biasanya, kalau gue kasih makan gue akan kasih dia lebih banyak sampai menggunung di mangkuknya. Dan sebelum gue tuang, gue akan mengocok kemasannya dulu sampai bersuara dan Simon memperhatikan itu. Seringkali Simon langsung makan kalau denger suara kayak gitu. Makannya gak pernah sampai habis dan selalu ada sisa di mangkuknya.
Dan sisa makanan itu samasekali gak memenuhi kriteria standar untuk menimbulkan efek suara. Maka gue pun terpaksa menyodorkan mangkuk itu ke Simon, dan dia gak mau. Akhirnya gue pun menaburkannya ke lantai, dan menggiring doi buat makan itu sisa makanan buat mengganjal perutnya. Untung sih dimakan sampai habis. Tapi Simon itu kucing beger, doi gak cukup cuma makan seporsi jabang bayi gitu doang.
Simon pun akhirnya cuma bisa mengeong dengan suaranya yang bikin hati siapapun yang mendengarnya teriris-iris.
Momen ini akhirnya bikin gue mikir lagi. Betapa kejadian kayak gini udah beberapa kali gue lihat, atau alami sendiri.
Simon ini kucing, dan sejauh yang gue baca seekor kucing emang gak se-setia seekor anjing. Dan Simon ini seringkali nyamperin orang kalau lagi ada perlunya doang. Lalu dengan mata berbinar-minar mirip Puss in Boots dan suaranya yang memelas selalu bikin gue jadi gak tega. Tapi kejadian kaya begini juga beberapa kali gue alami, bedanya, dia bukan kucing melainkan manusia.
Menjadi orang yang terlalu gampang tersentuh atau bersimpati dengan keadaan seseorang ternyata gak baik, akhirnya gue menyimpulkan. Gak tau karena keturunan atau apaan gue sendiri termasuk orang yang seringkali gampang terpengaruh sama orang lain. Tapi gue sendiri masih belajar buat menjadi orang yang "tegaan", dan orang-orang seringkali memandang negatif dengan hal ini. Mungkin katanya bukan "tegaan" harusnya, bisa juga "gak peduli" atau bahkan "egois" dan bla-bla-bla.
Gue pernah membantu seseorang, temen gue sendiri karena dia emang sering cerita ke gue tentang kesulitannya dalam hidupnya yang penuh problematika. Dia minta tolong ke gue dalam hal sesuatu di saat gue sendiri sebenernya sedang sibuk melakukan sesuatu. Gue gak tega, dan akhirnya meninggalkan kesibukan gue yang sebenernya penting buat gue saat itu, dan untuk jangka panjang. Temen gue itu di telepon pokoknya menggambarkan kondisi yang menurut gue udah butuh pertolongan banget. Gue pun buru-buru menemui dia dengan rasa was-was, dan pikiran-pikiran takut ada apa-apa. Pokoknya sebuah kondisi di mana rasa kekhawatiran itu memuncak.
Pas gue sampai. Semua yang dikatakan temen gue itu dusta.
Tapi dari kejadian itu pun gue sadar. Selama ini, bahkan sampai sekarang gue belum bisa tegas untuk menolak ketika seseorang menggunakan sifat gampang-kasian nya gue yang gak tau positif atau negatif itu.
Terakhir kali yang gue alami pun sama, beberapa minggu yang lalu di mana gue membantu seorang temen gue di mana saat itu gue pun harus ke sana - ke sini sendirian buat nolongin dia, dan keesokannya ada deadline pengumpulan tugas yang menentukan kelulusan. Tapi setelah gue bantu dia, ternyata lagi-lagi efeknya justru ke gue sendiri. Ternyata dia gak sebutuh itu dengan bantuan gue. Dia lagi santai, lebih santai dari gue sendiri yang saat itu ngos-ngosan. Gue pun lalu bergegas pulang, dengan waktu yang terbuang dan harus mengerjakan tugas sendirian.
Mungkin bukan salah mereka. Mungkin emang guenya ajah yang terlalu make perasaan. Susah emang buat ngubah sifat kaya gini, gak semua orang mengerti bagaimana susahnya. Beberapa orang cuma bisa jadiin ini bahan bercandaan terus ketawa pake mulut menganga padahal mulutnya bau pantat ayam janda.
Mungkin mereka, orang-orang yang jargon hidupnya "The less I care, the happier I will be" lah yang paling beruntung. Tapi pelajaran dari malam di mana gue insomnia ini adalah, banyak hal yang harus diubah. Juga, bagaimana rasa kepedulian itu harus memikirkan diri sendiri juga. Jangan sampai hanya karena demi kepentingan orang lain, kepentingan diri sendiri juga dilupakan. Egois? mungkin, ah tapi mungkin yang ngomong egois cuma mereka yang kesel karena terlalu manja sampe minta bantuan melulu.
Sebelum tulisan ini berakhir, akhirnya kakak gue menemukan makanannya Simon ini. Dan Simon, sekarang gak lagi mengeong dan mulai menjadi Simon seperti biasanya; yang kalau dipegang pas udah kenyang suka ngamuk dan mencakar-cakar. Seolah lupa beberapa menit yang lalu doi ngelepas gengsi dan memelas-melas.
Yeah, everybody's changing in a minute. Ralat; everycat.
17 February 2013
KOPI!
"Buruan!"
Fyuh…akhirnya sampai juga.
Icip.
Pedas mbak!
Butuh usaha ekstra untuk menyantap semua. Matanya lalu menyelonong ke atas meja lalu ke layar.
*******
paswordnya salah mba!
'KAPITAL SEMUA MAS" jawabnya lalu merebut nampan dari atas meja.
Kopi hitam, nasi goreng merapi, lampu kuning.
Ia memilih duduk di pojok karena di situ ia merasa aman.
Zoom out. Terlihat orang-orang lain juga sendiri.
Fyuuh…keringatnya menetes. Minimal tidak sendirian menjadi sendiri.
Diangkatnya cangkir kopi. Idenya tumpah ruah ke atas meja.
Semua orang menulis, dengan atau tanpa secangkir kopi.
Akhirnya sempurna juga.
Bandung,
di sebuah kafe di mana semua orang juga sendiri.
Minggu, 17 Februari 2013.
Subscribe to:
Posts (Atom)
